KPK Panggil Komisaris PT Garuda Indonesia Jadi Saksi Suap Rolls-Royce

Ibnu Hariyanto - detikNews
Kamis, 12 Des 2019 10:55 WIB
Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Komisaris Independen PT Garuda Indonesia (Persero) Eddy Purwanto Poo terkait kasus suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C pada PT Garuda Indonesia. Eddy dipanggil sebagai saksi untuk tersangka Hadinoto Soedigno.

"Dipanggil sebagai saksi untuk tersangka HDS (Hadinoto Soedigno)," ujar Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah, Kamis (12/12/2019).

Eddy akan dimintai keterangan dalam kapasitas sebagai mantan EVP Finance PT Garuda Indonesia (Persero). Selain Eddy, KPK memanggil sejumlah saksi lain dari unsur pejabat dan mantan pejabat PT Garuda Indonesia.

Berikut ini identitas saksi yang dipanggil KPK:

- Mantan VP Aircraft Maintenance Management PT Garuda Indonesia (Persero), Batara Silaban
- Senior Manager Engine Management PT Garuda Indonesia (Persero), Azwar Anas
- VP Enterprise Risk Management and Subsidiaries PT Garuda Indonesia (Persero), Enny Kristiani
- Mantan Direktur Layanan Strategi dan Teknologi Informasi PT Garuda Indonesia (Persero), Elisa Lumbantoruan
- Mantan VP Aircraft Maintenance PT Garuda Indonesia (Persero), Dodi Yasendri
- Dessy Fadjriaty, ibu rumah tangga


Sebelumnya, KPK juga telah memanggil rombongan eks pejabat PT Garuda Indonesia jadi saksi pada Selasa (10/12). Para saksi dicecar KPK soal pengadaan pesawat dan mesin dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia.

"Kami dalami terkait dengan proses pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia. Jadi, tim masih menelusuri secara terus menerus bagaimana proses pengadaan pada saat itu di PT Garuda Indonesia, baik pesawat, mesin pesawat, ataupun karena ada pengembangan dalam perkara ini, yaitu proses perawatan pesawat," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di kantornya, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (10/12).


Sementara itu, kasus yang tengah diusut KPK ini merupakan pengembangan perkara yang menjerat mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar. Sedangkan Hadinoto dijerat KPK sebagai tersangka dalam kapasitasnya sebagai Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia periode 2007-2012.

Emirsyah dan Hadinoto diduga KPK mendapatkan suap dari perantara bernama Soetikno Soedarjo. Oleh KPK, Soetikno disebut sebagai beneficial owner dari Connaught International Pte Ltd serta pemilik dari PT Mugi Rekso Abadi (MRA).

Namun berkas perkara Emirsyah dan Soetikno sudah lebih dulu dirampungkan KPK. Keduanya segera menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Emirsyah--saat diumumkan sebagai tersangka pada Januari 2017--diduga KPK menerima 1,2 juta euro dan USD 180 ribu serta dalam bentuk barang melalui Soetikno sebagai perantara dari Rolls-Royce P.L.C. Selain nominal yang diduga diterima Emirsyah, KPK mengidentifikasi adanya pusaran uang lain yang bahkan tidak hanya berada di dalam negeri serta tidak hanya pada Emirsyah seorang.

Selain itu, Emirsyah turut diduga menerima suap dalam bentuk barang dengan total nilai USD 2 juta. Barang-barang itu tersebar di Singapura dan Indonesia. KPK juga menjerat Emirsyah dan Soetikno sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang.

Adapun Hadinoto diduga menerima suap juga melalui Soetikno senilai USD 2,3 juta dan 477 ribu euro yang dikirimkan ke rekening miliknya di Singapura.


Simak Video "Anak Iis Dahlia Bicara Soal Ayah Jadi Pilot yang Bawa Harley Ilegal"

[Gambas:Video 20detik]

(ibh/aan)