Mengenal Kayau, Tradisi Penggal Kepala yang Dikaitkan Bocah Korban Sodomi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 10 Des 2019 15:07 WIB
Foto: Ilustrasi senjata Suku Dayak (Hasan Alhabshy)

Kayau yang Disalahpahami

Lebih lanjut, Masri pun menjelaskan bahwa tradisi ini kerap disalahpahami oleh orang luar Dayak. Salah satunya, dia mengkritik pandangan naturalis Carl Bock asal Norwegia yang ia nilai membuat makna kayau menjadi bias dan mereduksinya hanya sebagai tradisi penggal kepala.

"Citra orang Dayak di masa lalu dibentuk orang (luar) tanpa bisa, atau tepatnya tanpa daya untuk diluruskan. Dikaitkan dengan motivasi ngayau yang lain, maka pembiasan-pembiasan oleh Bock ini mislead," ungkap Masri.


Masri memaparkan beberapa motivasi kayau. Beberapa di antaranya seperti melindungi pertanian, balas dendam, mempertahankan diri hingga keyakinan bahwa kepala musuh merupakan penambah daya tahan berdirinya bangunan.

Namun, tradisi kayau antar suku-suku dayak ini sepakat diakhiri oleh Dayak Borneo Raya. Kesapakatan ini dilakukan dalam Musyawarah Besar Tumbang Anoi di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu, Kalimantan Tengah, pada tahun 1894.

Menurut Masri, kini makna dari kayau sudah berubah. Kayau bukan lagi soal pemenggalan kepala. Kayau di era modern dimaknai sebagai perang melawan keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan atau segala hal yang menghambat kemajuan masyarakat Suku Dayak.

Sebelumnya, polisi sudah menepis isu viral yang mengaitkan kematian bocah tanpa kepala dengan tradisi kayau. Polisi menegaskan bahwa bocah itu merupakan korban sodomi dan pembunuhan.

"Kami rilis (kasus sodomi dan pembunuhan) karena ini (informasi) sifatnya viral dan di Kalteng ada isu 'kayau'. 'Kayau' itu pemenggalan kepala yang sifatnya digunakan untuk ritual adat, nah itu kita tepis isu itu," tegas Kabid Humas Polda Kalteng Kombes Hendra Rochmawan saat dihubungi, Selasa (10/12/2019).


Bocah H disodomi tersangka berinisial A. Setelah disodomi, bocah H dipenggal kepalanya oleh pelaku di bekas penambangan emas tanpa izin di Tumbang Mahop, Katingan Hulu.

Sodomi dan pemenggalan kepala bocah terjadi pada Selasa (3/12). Namun mayat bocah tanpa kepala baru ditemukan pada Jumat (6/12).

Kombes Hendra mengatakan pelaku A ditangkap pada Senin (9/12) sore. Dari penangkapan ini, polisi menemukan lokasi kepala yang dipendam pelaku 100 meter dari lokasi temuan mayat bocah H.
Halaman

(dnu/tor)