Laporan dari Madrid

Peladang Diajari Gunakan Formula Khusus dari Terasi untuk Restorasi Gambut

Mei Amelia R - detikNews
Selasa, 10 Des 2019 14:44 WIB
Kapolres Sambas AKBP Permadi SP. Foto: Mei Amelia Rahmat/detikcom
Kapolres Sambas AKBP Permadi SP. Foto: Mei Amelia Rahmat/detikcom
Madrid - Para peladang gambut di Sambas, Kalimantan Barat, perlahan meninggalkan cara-cara membakar dalam proses membuka lahan baru. Mereka juga diajari menggunakan formula khusus berbahan terasi untuk meningkatkan kesuburan tanah sehingga lahan tidak perlu dibakar.

"Membakar lahan itu kan cara-cara lama agar dengan harapan setelah dibakar lahan itu kembali subur, namun sekarang kita ubah mindset masyarakat agar tidak menggunakan lahan secara bepindah-pindah, setelah tidak subur pindah lagi," jelas Kapolres Sambas AKBP Permadi SP saat menjadi pembicara di Paviliun Indonesia dalam ajang Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCCC-COP25) di Feria de Madrid, Madrid, Spanyol, Selasa 10 Desember 2019.

Polisi bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) menerapkan program 3P. Dengan program ini, masyarakat dimungkinkan untuk menanam gambut secara berulang-ulang, sehingga tidak perlu berpindah-pindah tempat.


"Yaitu dengan menggunakan formula 1 embio, porfora ini semacam pupuk yang terdiri dari buah nanas, dicampur 5 liter air, tepung tapioka, vitamin B komplek, terasi dan pupuk kandang," katanya.

Bahan-bahan tersebut kemudian diramu dan dimasak. Bila sudah jadi, pupuk tersebut tinggal disemprotkan ke lahan gambut setiap pagi dan sore.

"Ini costnya murah sekitar Rp 60 ribu saja, bahan-bahannya bisa didapat dengan mudah," katanya.

Pupuk porfora tadi bisa disemprotkan ke lahan seluas 1 Ha. Para petani diberikan pengarahan dan pengetahuan tentang membuat pupuk khusus ini oleh anggota Bhabinkamtibmas, yang sudah dilatih oleh BRG.


"Jadi kami kepolisian indonesia khususnya di Kalbar tidak hanya melakukan penegakan hukim dengan menangkap, tapi kami juga berupaya mengajarkan bagaimana membuka lahan, bertani dengan cara tidak membakar lahan," imbuhnya.

Saat ini sudah ada 4 desa dari 4 kecamatan dan 65 keluarga yang menerapkan pola tersebut. Permadi berharap, cara itu bisa diikuti oleh petani lainnya.

Sekadar untuk diketahui, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat mencapai 1.680.000 Ha yang terbagi dari Kabupaten Kubu Raya 471.187 Ha, Kabupaten Ketapang 248.506 Ha, Kabupaten Kapuas Hulu 282.832 Ha dan kabupaten lainnya.

Sebaran hotspot berdasarkan pengolahan data lapang Badan Metrologo, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sepanjang Agustus 2019 ada 7.655 titik api. Penyumbang hotspot terbanyak 2.126 titik di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sanggau sebanyak 1.140 titik api. (mei/aan)