Kepala Bakamla Tegaskan Tak Ada Tumpang Tindih Tugas dengan TNI AL

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Selasa, 10 Des 2019 12:45 WIB
Foto: Kepala Bakamla RI Laksdya Bakamla A. Taufiq R (Wilda Hayatun Nufus/detikcom)
Foto: Kepala Bakamla RI Laksdya Bakamla A. Taufiq R (Wilda Hayatun Nufus/detikcom)
Jakarta - Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Republik Indonesia Laksdya Bakamla A. Taufiq R menegaskan tak ada tumpang tindih tugas jajarannya dengan TNI Angkatan Laut. Dia menjelaskan beda tugas Bakamla dan TNI AL.

"Tidak (tumpang tindih). Begini, kalau kita melihat bahwa secara universal, AL di dunia punya 3 fungsi, military function itu hakiki, kemudian ada diplomacy function, constabulary function. Nah constabulary function ini penegakan hukum. Jadi AL punya kewenangan untuk penegakan hukum dan kemudian diatur oleh UU mana yang menjadi bagian AL, mana bagian instansi yang lain. Jadi tidak ada tumpang tindih, wilayah juga sama," kata Laksdya Taufiq di Mabes Bakamla RI, Jl Proklamasi Nomor 56, Jakarta Pusat, Selasa (10/11/2019)


Meski Angkatan Laut punya kewenangan tersebut, menurut Taufiq cara pandang masyarakat era ini sudah berbeda. Karena itu, lanjut dia, ada kesatuan lain.

"Tetapi sekarang ini kan memang dengan kekinian, dengan demokratisasi, walaupun AL punya kewenangan itu tapi di dunia kalau sekarang ini militer melakukan penegakan hukum itu di dunia ini alergi. Maka semua membentuk coast guard, fungsinya adalah, yaitu military security sama dengan terkait militer, terorism, itu kan aspek keamanan yang antara sipil dengan militer. Kemudian maritim security, seperti keselamatan pelayaran, kemudian SAR, pencarian dan sebagainya itu bagian dari tugas coast guard juga," jelas Taufiq.

"Kemudian defence di bawah Navy. Kenapa? UU kita mengatakan ada komcad (komponen cadangan) di situ. Kita punya aset, kita punya panji manusia terlatih, kalau perang masa nggak digunakan di bawah kendali AL. Jadi sebetulnya nggak ada tumpang tindih, hanya bagaimana kita memaknai kemudian kita mensinkronkan daerah operasi dan oleh karena itu sekarang UU-nya masih bersumber pada UU masing-masing, maka saya tekankan kepada seluruh personel Bakamla, walaupun secara mendasar, kalau kita ingin berhasil dalam suatu operasi, kodal (komando dan pengendalian) harus jelas," imbuh dia.


Laksdya Taufiq menyebut ada semacam upaya harmonisasi antar lembaga. Dia mengaku sudah menjalin hubungan baik dengan hampir seluruh coast guard di dunia, termasuk komando pasifik di Amerika yang berkedudukan di Hawai. Dia lalu mencontohkan koordinasi dengan AL.

"Nah, mereka (komando pasifik di Hawai) menginformasikan ke saya bahwa 'Pak di sini, daerah ini ada situasi seperti ini'. Saya belum tahu sebetulnya, sensor kita belum tahu dan mereka punya satelit. Mereka menginfokan berada di utaranya Irian, misal. Saya kan nggak ada akses ke sana, saya kasih ke AL yang dikasih armada 3, armada 3 ada di sana, silakan. Saya tidak memerintahkan dia ke sana tapi saya menginfokan karena itu untuk kepentingan bersama maka armada 3 menggerakkan kekuatannya. Saya nggak nyuruh dia, itulah salah satu contoh bagaimana kita unity of effort," sebut Taufiq.

"Kemudian seperti yang pernah saya lakukan pada saat saya menangkap 1,3 ton sabu-sabu ya di Selat Singapura, coba disimak press release saya, di situ saya sampaikan bahwa ini bentuk sinergitas. Jadi kita akan bekerja dalam yurisdiksi masing-masing. Masalah narkotika saya serahkan ke BNN, masalah pidana umum saya serahkan ke kepolisian, masalah kepabeaan saya serahkan ke Bea Cukai, maslah kapal ikannya saya serahkan ke KKP. Tapi masalah kedaulatan diambil oleh AL itu sendiri. Jadi tidak ada tumpang tindih, bagaimana kita menyikapi UU yg berlaku di kita," beber dia. (gbr/fjp)