Soroti Kasus Guru Cabuli Siswa, KPAI Minta Sekolah Dilengkapi CCTV

Soroti Kasus Guru Cabuli Siswa, KPAI Minta Sekolah Dilengkapi CCTV

Eva Safitri - detikNews
Senin, 09 Des 2019 13:15 WIB
Soroti Kasus Guru Cabuli Siswa, KPAI Minta Sekolah Dilengkapi CCTV
Foto: Komisioner KPAI Retno Listyarti (Eva Safitri-detikcom)
Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti kasus kekerasan seksual pada anak di sekolah. Di sepanjang tahun 2019 ini, KPAI mencatat ada 17 kasus kekerasan seksual yang terjadi dan mayoritas pelakunya adalah oknum guru.

"Kalau kekerasan di pendidikan dari pengaduan yang kami terima itu terjadi penurunan, namun level kekerasannya justru meningkat dan yang agak mengerikan adalah kekerasan seksual karena terjadi peningkatan," ujar Komisioner KPAI Retno Listyarti, di Hotel Rivoli, Jl Kramat Raya Jakarta Pusat, Senin (9/12/2019).



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

KPAI mencatat mayoritas pelaku kekerasan seksual adalah guru sebesar 88 persen sedangkan sisanya 22 persen merupakan kepala sekolah. Retno mengatakan guru yang pernah diduga melakukan kekerasan seksual merupakan guru bimbingan konseling (BK), guru olahraga bahkan guru agama.

"Ini pelakunya adalah guru dan wali kelasnya. Mengerikannya guru-guru ini adalah guru olahraga dan guru agama, guru BK. Guru-guru ini seharusnya melindungi anak di sekolah tapi malah justru menjadi pelaku kekerasan," katanya.


Tonton juga Bus Rombongan Guru Terjun ke Sungai di Blitar, 5 Orang Tewas :



Lebih lanjut, kekerasan seksual terbesar terjadi di lingkungan sekolah dasar. Retno mengatakan kebanyakan modus kekerasan itu karena adanya iming-iming nilai bagus.

"Dari 17 kasus itu, terjadi di SD 64,70 persen, SMP 23,53 persen, dan SMA 11,77 persen. Kenapa tinggi di level SD, karena di usia ini anak mudah diiming-imingi, takut diancam oleh guru dengan nilai jelek, atau tidak naik kelas," katanya.



Oleh karena itu, Retno meminta pemerintah untuk lebih ketat menyeleksi tenaga pengajar. Dia juga berharap pihak sekolah lebih peka terhadap lingkungan.

"Screening (penyeleksiannya) ya kayaknya harus lebih ketat, paling tidak jangan sampai mereka memilih guru yang potensi gitu. Kayak yang terakhir memang ada yang memiliki kelainan seks, secara sepintas kan kita tidak bisa lihat ya orang punya kelainan seks," katanya.

"Nah, ini penting bagaimana sekolah memiliki perlindungan termasuk CCTV, tapi yang pasti adalah bagaimana kita bisa lihat sesama guru. Ini kok kayaknya suka ngumpulin anak sekolahnya itu patut dicurigai, yang gitu-gitu lah," lanjut Retno.
Halaman 2 dari 2
(eva/haf)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads