Laporan dari Madrid

Bupati Sintang Bicara soal Peladang Bakar Hutan yang Ditangkap Polisi

Mei Amelia R - detikNews
Senin, 09 Des 2019 04:27 WIB
Foto: Antara Foto/Bayu Pratama S
Foto: Antara Foto/Bayu Pratama S
Madrid - Sebanyak 6 orang peladang di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat ditangkap polisi karena membakar lahan. Bupati Sintang Jarot Winarno pun angkat bicara soal kasus keenam peladang tersebut.

Jarot mengatakan, konservasi lingkungan berkelanjutan diperlukan untuk menyeimbangkan alam. Tapi di sisi lain, kehidupan masyarakat desa bergantung pada hutan.

"Pembangunan sosial budaya termasuk adat istiadat harus sesuai dengan adat istiadat. Membakar ladang 'kan bagian dari kearifan lokal masyarakat kita zaman dahulu," kata Jarot.


Hal iti diungkapkan Jarot dalam perbincangan dengan sejumlah media seusai dirinya menjadi pembicara di Paviliun Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim (COP25) di Feria de Madrid (IFEMA), Madrid, Spanyol, Jumat 6 Desember 2019.

"Undang-undang juga mengakomodir, boleh bakar
Kami bikin Perda juga sama seperti undang undang, boleh membakar tapi saya keluarkan Peraturan Bupati No 57 Tahun 2018 tentang pembakaran ini kita atur, kapan boleh bakar, kapan nggak boleh, berapa luasannya kan begitu," kata Jarot.

Jarot meyakini bahwa pembakaran lahan itu akan terjadi lagi pada tahun depan.

"Jadi kalau peladang-peladang itu bukan penjahat lah, dia cuma nyari makan, cuma nanam padi kadang ditambah jagung, timun begitu," imbuhnya.


Untuk diketahui, 6 orang peladang di Kabupaten Sintang, Kalbar ditangkap polisi beberapa waktu lalu karena membakar lahan dalam upaya membuka lahan. Ia tidak bisa mengintervensi proses hukum terhadap keenam peladang tersebut, tetapi berharap agar kasus tersebut bisa selesai secara kekeluargaan.

"Harapannya ya bebas. Janganlah yang bakar yang hanya untuk hidup itu yang kena tangkep, karena mereka ini bukan penjahat, mereka ini hanya berjuang hidup," tandasnya.




(mei/fdu)