Yogyakarta Aman dari Anthrax

Yogyakarta Aman dari Anthrax

- detikNews
Jumat, 18 Nov 2005 18:24 WIB
Yogyakarta - Masyarakat Yogyakarta masih bisa menyantap daging dengan leluasa. Sebab berdasarkan hasil pemantauan Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tidak ditemukan daging sapi atau hewan ternak lainnya yang terindikasi terkena anthrax.Daging sapi yang beredar di sejumlah pasar tradisional dan swalayan aman dikonsumsi. Namun masyarakat tetap harus mewaspadai daging yang terinfeksi anthrax.Hal itu dikemukakan Kepala Seksi Kesehatan Hewan Sub Dinas Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Yogyakarta drh Sri Kusniati ketika dihubungi detikcom, Jumat (18/11/2005)."Masyarakat tak perlu khawatir, daging sapi dan hewan ternak lainnya berdasarkan hasil monitoring petugas di beberapa pasar aman untuk dikonsumsi," kata Sri.Apabila terdapat daging sapi yang terkena anthrax, kata Sri, sangat mudah untuk dibedakan secara fisik. Bila dilihat dengan mata secara langsung, daging yang terkena kuman anthrax kelihatan sekali bedanya bila dibandingkan dengan daging yang sehat."Daging yang terkena kuman akan lebih cepat membusuk, berwarna merah tapi tidak cerah dan tidak merata," katanya.Menurut Sri, pihaknya sudah meminta Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Hewan drh Sri Kusniati didampingi Kasi Pemantauan Bahan Makanan Asal Hewan drh Aladria, beserta staf, untuk melakukan pemantauan di sejumlah pasar tradisonal selama dua hari sejak kemarin dan hari ini.Beberapa pasar yang dipantau antara lain Pasar Beringharjo, Pasar Demangan, Pasar Kranggan dan Pasar Sentul. Di tempat itu petugas juga memberikan penyuluhan kepada pedagang agar tidak menjual daging yang tak sehat, terutama bila ada yang terkena anthrax karena berbahaya. "Hasilnya, kita belum menemukan ada daging tidak sehat yang dijual di pasaran," katanya.Sri mengatakan, saat ini pihaknya juga mengawasi secara ketat semua hewan ternak yang hendak disembelih di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ngampilan maupun RPH milik perseorangan yang ada di Yogyakarta.Sedangkan untuk mengawasi beberapa RPH milik perseorangan yang tersebar di Bantul dan Sleman, pihaknya telah meminta dinas terkait untuk ikut mengawasinya."Selain itu kita melakukan pemantauan, terutama terhadap daging sapi yang berasal dari luar daerah. Pengawasan di pasar-pasar lebih diperketat. Sebab tidak menutup kemungkinan daging di pasar yang berasal dari daerah lain ada yang kurang sehat," katanya.Menurut dia, selama ini pencegahan anthrax dilakukan dengan cara pemeriksaan fisik hewan, baik di pasar hewan Kuncen maupun di RPH, serta memberikan penyuluhan kepada peternak. Para pedagang daging juga wajib memeriksakan dagingnya ke UPTD Subdin Peternakan sebelum diperjualbelikan."Itu salah satu cara mencegah. Sedangkan untuk vaksinasi, khusus Yogyakarta memang tidak menyediakan. Pemberian vaksin diprioritaskan untuk daerah Sleman, mengingat tahun 2003 lalu pernah terjadi kasus anthrax," katanya. (ddn/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads