Penjelasan tentang Saraswati, Hari Raya Umat Hindu dan Maknanya

Niken Widya Yunita - detikNews
Sabtu, 07 Des 2019 17:39 WIB
Penjelasan tentang Saraswati, Hari Raya Umat Hindu dan Maknanya/Foto: istock
Jakarta - Umat Hindu merayakan Hari Raya Saraswati pada hari ini. Saraswati adalah peringatan turunnya ilmu pengetahuan.

Berikut penjelasan tentang Saraswati:



1. Diperingati Setiap Enam Bulan Sekali

Hari raya ini diperingati setiap enam bulan sekali (210 hari) tepatnya pada Saniscara atau Sabtu Umanis Wuku Watugunung.

Umat Hindu di Indonesia memperingati hari Saraswati sebanyak dua kali. Pada tahun 2019, peringatan hari Saraswati dilaksanakan pada 11 Mei dan hari ini tanggal 7 Desember.

Pada tahun 2018, umat Hindu di Indonesia memperingati hari Saraswati pada 17 Maret dan 13 Oktober 2018.

2. Penghormatan pada Dewi Saraswati

Hari Raya Saraswati juga merupakan penghormatan terhadap Dewi Pengetahuan yaitu Dewi Saraswati.
Dewi Saraswati digambarkan sebagai sosok perempuan cantik berlengan empat yang duduk di atas teratai dan berwahana seekor angsa dan merak. Kedua tangan kanannya membawa sitar atau veena dan ganatri, sedangkan kedua tangan kirinya yang satu membawa pustaka atau keropak sedangkan tangan kiri satunya ikut membawa sitar atau veena.

Dewi Saraswati juga merupakan istri Dewa Brahma yang dikenal sebagai Dewi Pelindung atau pelimpah pengetahuan, kesadaran, dan sastra.



3. Makna Saraswati

Dari perayaan Saraswati dapat diambil hikmahnya, antara lain:

1. Harus bersyukur kepada Hyang Widhi atas kemurahan-Nya yang telah menganugrahkan vidya (ilmu pengetahuan) dan kecerdasan

2. Dengan vidya makhluknya harus terbebas dari avidya (kebodohan) dan menuju ke pencerahan, kebenaran sejati dan kebahagiaan abadi.

3. Selama ini secara spiritual makhluknya masih tertidur lelap dan diselimuti oleh sang maya (ketidakbenaran) dan avidyam (kebodohan). Dengan vidya ini harus berusaha untuk melek/eling/bangun dan tidur kita, hilangkan selimut maya, sadarilah bahwa kita adalah atma, dan akhirnya tercapailah nirwana.

4. Belajar dan angsa untuk menjadi orang yang lebih bijaksana. Angsa bisa menyaring air, memisahkan makanan dan kotoran walaupun di air yang keruh/kotor atau lumpur. Juga jadilah orang baik, seperti buruk merak yang berbulu cantik, indah, dan cemerlang walaupun hidupnya di hutan.

5. Kita masih memerlukan atau mempelajari ilmu pengetahuan dan sains yang sekuler, tetapi harus diimbangi dengan ilmu spiritual dengan peng-hayatan dan bakti yang tulus.

6. Laksanakan puja atau sembahyang sesuai dengan kepercayaannya masing-masing secara sederhana dengan bakti yang tulus atau ikhlas, bisa dirumah, kuil, atau pura, dan lain-lain.




(nwy/erd)