Mendaki Gunung Lewati Lembah demi Antar Buku ke Anak Pedalaman Papua

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Kamis, 05 Des 2019 20:32 WIB
Foto: Pedalaman Papua
Jakarta -

Hano Wene menjadi salah satu komunitas sosial yang berfokus di bidang literasi dan pendidikan untuk pedalaman Papua. Para relawan mengumpulkan donasi buku lalu membagikannya untuk membangun sebuah perpustakaan di desa-desa terpencil di Papua.

Hano Wene diambil dari bahasa lokal Wamena yang artinya kabar baik. Neas Wanimbo (25), sang inisiator mengatakan sulitnya mendapat akses buku, keterbatasan guru, dan pendidikan yang tertinggal saat sekolah dulu menjadi beberapa alasan lahirnya komunitas ini.

Mendaki Gunung Lewati Lembah demi Antar Buku ke Anak Pedalaman PapuaFoto: Pedalaman Papua

Bersama Neas, detikcom berkesempatan ikut ekspedisi mendistribusikan kumpulan buku seberat 323 kg ke pedalaman Papua tempat tinggalnya dulu, yaitu di Desa Tangma, Kabupaten Yahukimo.

Neas mengatakan ini distribusi buku keempat kalinya untuk perpustakaan SD YPPGI Desa Tangma yang kali ini ditemani dan dibantu PT Freeport Indonesia. Sebelumnya ia pernah membawa sekitar 100 kg, 20 kg, dan 100 kg buku untuk tempat dulu dirinya belajar.

Untuk sampai ke Tangma, harus dua kali naik pesawat, yaitu dari Jakarta ke Sentani lalu dengan pesawat lain menuju Wamena. Selanjutnya Desa Tangma hanya bisa ditembus dengan mobil offroad atau cara lain dengan berjalan kaki selama 10 jam seperti yang biasa dilakukan warga setempat.

Ada sekitar 15 mobil jenis Strada atau Ford Ranger yang jadi angkutan umum warga Tangma menuju Kota Wamena dan sebaliknya serta membutuhkan sekitar 3 jam perjalanan. Salah seorang sopir, Edi, mengatakan, saat musim hujan tiba, ia harus menyetir 'hampir setengah mati' buat menembus medan jalan.

Pasalnya untuk menuju Desa Tangma harus menembus pegunungan yang memiliki medan tanah naik-turun yang terjal serta butuh kehati-hatian yang tinggi terhadap jurang yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari mobil sepanjang perjalanan.

Lalu mobil juga harus melewati sungai bebatuan yang, kata Edi, semakin hari semakin lebar akibat longsor. Dulu di area ini pernah dibangun jembatan tetapi ambruk karena longsor dan sisanya terbawa arus.

Namun, ini jalan satu-satunya menuju Tangma, jalan mobil yang sengaja dibuat oleh warga setempat.

Di beberapa titik, warga juga memasang pagar kayu untuk jalur mobil. Kata Edi, ini untuk mencegah lalu lalangnya hewan peliharaan mereka yang paling berharga, yaitu babi. Perjalanan juga sempat terhenti beberapa saat babi melintas di jalur mobil.

Sulitnya akses jalan menuju Tangma sebanding dengan pemandangan pegunungan yang indah maupun kehangatan pengurus sekolah yang menyambut. Sayangnya, saat itu, pascakerusuhan di Wamena berimbas pada keamanan dan kewaspadaan warga sekitar Tangma.

Kata Kepala Sekolah SD YPPGI Anike Tenouye (37), semua sekolah di Wamena maupun Yahukimo diliburkan sementara demi keamanan dan akan mulai aktif kembali awal tahun 2020. Beberapa murid dari pedalaman yang lebih jauh juga memilih untuk tinggal di rumahnya.

Hanya ada murid yang memang rumahnya tak jauh dari sekolah. Tak terkecuali buat buku-buku perpustakaan yang diamankan dan disimpan di rumah-rumah guru. Selain itu, murid-murid kini lebih banyak disibukkan aktivitas dari gereja karena menjelang momen Natal.

Biasanya, kata Anike, sekitar 400 murid ramai bermain di halaman sekolah dan memadati ruangan yang terbuat dari papan tersebut. Meskipun begitu, beberapa murid yang tersisa, pemuda setempat, dan pengurus sekolah begitu antusias saat rombongan tiba dengan karung-karung berisi buku.

Mimpi Meningkatkan Pendidikan di Kampung Sendiri

Distrik Tangma yang terbagi menjadi 10 desa dan memiliki 2 SD dan 2 SMP. Salah satunya SD YPPGI Tangma, tempat Neas dulu bersekolah. Meski sudah berdiri sejak tahun 1963, peningkatan perubahan, baik sarana dan prasarana sangat minim, yang menyebabkan sekolah ini ketinggalan penggunaan kurikulum terbaru.

Tangma diisi lebih dari 6000 penduduk yang terbagi 7 suku, meskipun sebenarnya belum ada data pasti tentang itu. Mayoritas pekerjaan penduduk sebagai petani umbi-umbian dan kopi. Satu hingga dua orang terlihat masih menggunakan pakaian adat Papua, seperti koteka atau tak memakai penutup buah dada untuk perempuan.

Distrik Tangma yang dikelilingi pegunungan berada di paling ujung Kabupaten Yahukimo dan malah lebih dekat ke Kabupaten Wamena. Kata Anike, dinas pendidikan setempat tidak pernah datang ke desanya dan berimbas selalu ketinggalan informasi terkini, terutama tentang pendidikan.

"Kita urus surat (administrasi saja) harus terbang dulu dari Wamena ke Yahukimo, tak ada jalan mobil menuju kabupaten. Kalau jalan kaki tembus gunung bisa sampai 10 hari," ujarnya.

Tak terkecuali bagi SD satunya lagi yang hanya memiliki satu guru dan mengajar enam kelas dari kelas 1-6 SD. Beberapa guru dan kepala sekolah yang memiliki (dan sudah diangkat) SK PNS lebih memilih tinggal di kota dan tak mengajar sama sekali.

Atas kondisi tersebutlah, Neas mengatakan ingin menyelesaikan masalah pendidikan di tanah kelahirannya tersebut, salah satunya dengan memberi akses buku buat adik-adik yang masih sekolah, termasuk menuntaskan buta aksara.

Ia yang baru lulus kuliah di Jakarta dan pernah beberapa kali keluar negeri meyakini bahwa setiap orang harus memiliki hak yang sama, termasuk dalam akses pendidikan. Neas juga menyebut pernah ada sarjana yang sama dengan dirinya dari desa ini, tetapi tak mau balik ke kampung halamannya.

"Saya ingin fokus di sini dulu (terutama untuk pemenuhan buku-buku), lalu pedalaman Papua yang lain, dan mungkin di beberapa daerah lain juga,' ujarnya.



(mul/ega)