Di Eco Fashion Week, Kemendes Pamerkan Tenun dari Daerah Tertinggal

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Kamis, 05 Des 2019 19:04 WIB
Foto: Kemendes PDTT
Foto: Kemendes PDTT
Jakarta - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggelar acara Eco Fashion Week Indonesia 2019 di Gedung Sarinah, Jakarta. Menteri Desa PDTT Abdul Halim Iskandar mengungkapkan kegiatan Eco Fashion yang mengangkat produk tenun dari Daerah Tertinggal sangat baik untuk dilaksanakan karena merupakan perwujudan dari pembangunan yang bertumpu pada peradaban.

"Kami akan dukung terus semua kegiatan yang bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia. Semua hal yang berkaitan dengan seni Indonesia mari bersama-sama kita angkat agar bisa diketahui oleh pihak yang lebih luas. Diharapkan, ke depannya kegiatan ini juga tidak hanya dilaksanakan di Jakarta, tetapi juga di kota-kota lainnya," ujar Halim dalam keterangan tertulis, Kamis (5/12/2019).

Lebih lanjut, Halim menyampaikan desa dan daerah tertinggal memiliki sumber daya yang perlu dimanfaatkan. Pemanfaatan tersebut dilakukan agar terjadi lompatan dari status tertinggal menjadi tidak tertinggal lagi.


"Kegiatan ini memberikan pesan kepada dunia bahwa Indonesia sangat berkomitmen terhadap isu perubahan iklim, salah satunya dengan mengusung konsep pewarnaan alami. Produk-produk dari daerah tertinggal perlu ditingkatkan terus untuk bisa mendukung pertumbuhan daerahnya," tandasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDTT Samsul Widodo mengatakanacara Eco Fashion Week Indonesia 2019 ini bertujuan untuk mengangkat produk tenun dari daerah tertinggal menuju pasar yang lebih luas.

"Proses dari pewarnaan alami pada produk tenun-tenun tersebut dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul Pewarnaan Alam: Jendela Menuju Mode Berkelanjutan," ujar Samsul.

Samsul menuturkan Eco Fashion Week Indonesia mengusung konsep 'Live in Designer'. Konsep ini mendatangkan langsung designer yaitu Merdi Sihombing untuk bisa tinggal bersama para penenun di daerah tertinggal selama 1 minggu. Selama kurun waktu itulah para penenun langsung belajar bagaimana cara pewarnaan alam dan pembuatan motif tenun terbaru dari designer.

"Untuk tahun 2019, produk tenun dan kerajinan yang ditampilkan berasal dari 5 daerah tertinggal yaitu Lombok Tengah, Donggala, Nias Selatan, Timor Tengah Selatan," katanya.

Sebagai informasi, Eco Fashion Week Indonesia adalah gelaran produk-produk tenun dari daerah tertinggal yang mengedepankan konsep keberlanjutan dengan mengusung teknik pewarnaan alami pada tenun-tenun yang diproduksi. Pewarnaan alami tersebut berasal dari berbagai jenis bahan alam seperti daun, kulit kayu dan bahan dari laut. Dengan menggunakan pewarnaan berbahan dasar alam, maka limbah yang diproduksi dari hasil pewarnaan tidak akan mencemarkan lingkungan.

Saat ini, gelaran Eco Fashion Week Indonesia sudah dilangsungkan sebanyak 2 kali. Eco Fashion Week Indonesia pertama kali digelar pada 30 November hingga 2 Desember 2018 di Gedung Stovia, Jakarta Pusat. Pada gelaran tahun lalu, hasil tenun yang ditampilkan berasal dari 2 daerah tertinggal yaitu Kabupaten Rote Ndao dan Kabupaten Alor.

Gelaran Eco Fashion Week Indonesia juga selalu mendatangkan langsung para penenun dari daerah asalnya untuk bisa menjelaskan dan mendemonstrasikan bagaimana proses pembuatan tenun yang selama ini mereka lakukan.


Dalam Acara Eco Fashion Week 2019 ini turut dihadiri oleh mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Eko Putro Sandjojo beserta istri, Direktur PT Sarinah, Ngurah Sugihartaya, dan para tamu undangan yang berasal dari berbagai kalangan seperti pemerintah pusat dan daerah, kedutaan, Dharma Wanita Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dan perwakilan dari pihak swasta. (akn/ega)