Kabar Baik Buat Pedalaman Papua Itu Berupa Perpustakaan

Nurcholis Maarif - detikNews
Kamis, 05 Des 2019 10:34 WIB
Foto: Nurcholis Maarif/detikcom
Papua - Sulitnya akses buku dan punya guru yang sedikit saat sekolah dulu menjadi beberapa alasan Neas Wanimbo (25) dan dua temannya mendirikan komunitas perpustakaan Hano Wene.

Mungkin komunitas literasi semacam ini sudah banyak dijalankan pegiat sosial di beberapa kota besar di Indonesia. Para relawan biasanya mengumpulkan donasi buku lalu membagikannya ke entitas yang lebih membutuhkan.

Hal yang sama dilakukan Hano Wene. Namun, beda tantangan selanjutnya bagi Hano Wene ialah bagaimana membawa kumpulan buku tersebut dari Jakarta, sebagai lokasi pengumpulan donasi, ke pedalaman Papua.

Pasalnya untuk mendistribusikan kumpulan buku tersebut tak hanya butuh biaya besar, tetapi juga kegigihan para relawannya. Pedalaman Papua hanya bisa ditembus dengan mobil off road dan beberapa malah harus dengan jalan kaki.


"Paling jauh pernah kita harus jalan kaki selama 10 jam. Waktu itu 5 orang dan membawa sekitar 50 Kg buku pakai tas ransel," ucap Neas kepada detikcom beberapa waktu lalu.

"Tantangan pengiriman buku Jakarta ke Papua itu besar. Kalau kampanye (pengumpulan bukunya) kan 2-3 bulan. Kita juga pernah pas membagikan buku kena hujan, buku kena basah," imbuhnya.

Neas menjelaskan Hano Wene diambil dari bahasa lokal Wamena yang artinya kabar baik. Secara filosofis, Hano Wene ingin membawa kabar baik di desa-desa terpencil di pedalaman Papua dengan buku-buku.

Ia mengatakan awalnya ingin membuat komunitas ini sejak SMA, tetapi punya kendala di jaringan dan belum punya kekuatan sekarang. Barulah di akhir-akhir kuliah di Tanri Abeng University pada tahun 2017, ia dan dua kawannya memulai komunitas ini.

"Waktu SMA pernah berpikir bikin pergerakan, waktu itu belum punya networking, belum punya power. Saya ceritakan ke teman di Jakarta, ada teman yang sekarang kuliah di Italia dan Belgia ikut membantu," ujarnya.

Kini setelah setahun lebih berdiri, komunitas Hano Wene memiliki kurang lebih 30 orang relawan yang tersebar di kota-kota Indonesia dan 7 relawan inti serta menembus 5 titik pedalaman Papua yang mendapat donasi buku. Neas juga sudah mengenalkan Hano Wene di luar negeri seperti Jepang dan Amerika Serikat, termasuk mendapat penghargaan darinya.

"Pernah Japan Tour visit 5 minggu, terus ditawari kerja, saya tolak. Padahal (ditawari) boleh bawa keluarga ke sana, dikasih rumah dan mobil, tetapi saya mau fokus di komunitas ini dulu," ujarnya.
Kabar Baik Buat Pedalaman Papua Itu Berupa PerpustakaanFoto: Nurcholis Maarif/detikcom

Beberapa waktu lalu, detikcom berkesempatan ikut dengan Neas untuk membagikan buku seberat 323 Kg ke SD YPPGI Desa Tangma, Kabupaten Yahukimo. Kata Neas, ini merupakan distribusi yang keempat kalinya buat sekolah tempat dulu dirinya belajar.

"Yang pertama bawa 100 Kg, terus 20 Kg dan 100 Kg lagi. Ini (distribusi) yang keempat dibantu salah satu program PT Freeport Indonesia. Mungkin bisa bekerja sama lagi untuk distribusi selanjutnya," ucapnya,

Ia mengatakan ingin tempat dulunya belajar menjadi lebih baik dengan buku-buku yang sudah diberikan dan ikut serta menuntaskan buka huruf. Apalagi, kata Neas, masih ada beberapa anak-anak di Desa Tangma yang masih enggan bersekolah dan lebih memilih berkebun atau berburu bersama orang tuanya.


Untuk itu, ia mengakalinya dengan mengajak bermain terlebih dahulu. Selain itu, kendala selanjutnya masih ada warga yang berpikir apa yang dilakukannya ialah kerja-kerja politis.

"Pernah door to door untuk datangkan anaknya ke perpustakaan. Anak-anak lebih berpikir untuk berkebun atau ke hutan untuk berburu. Ke sekolah kita kasih bola, setelah itu kita ajak mereka baca," ucapnya.

Neas mengatakan ingin menyelesaikan perpustakaan yang ada di desanya terlebih dahulu lalu menyebar ke pedalaman Papua maupun pelosok negeri yang lain. Pasalnya ia menyadari masih banyak warga yang belum mendapat hak yang sama terhadap akses pendidikan.

"Hano Wene mau fokus juga di digitalnya nanti, mungkin bisa jadi startup. Terus donatur juga nanti bisa berdonasi pakai uang elektronik," pungkas Neas yang juga lulusan Teknik Informatika.



Simak juga video Akan Terbang ke Papua, Mahfud Md Bakal Gelar Dialog dengan Warga:

[Gambas:Video 20detik]



(ega/ega)