detikNews
Rabu 04 Desember 2019, 21:20 WIB

Jaksa Ungkap Percakapan 'Trik Ketum-Menag' dalam Sidang Kasus Rommy

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Jaksa Ungkap Percakapan Trik Ketum-Menag dalam Sidang Kasus Rommy Foto: Zunita Amalia Putri/detikcom
Jakarta - Jaksa memutarkan rekaman percakapan telepon antara Sekretaris DPW Norman Zein Nahdi dan mantan Kakanwil Kemenag Jatim Haris Hasanudin. Di percakapan itu, Norman sempat menyebut istilah 'trik ketum dan Menteri Agama (Menag)'.

Jaksa awalnya menanyakan ingatan Norman mengenai percakapan itu. Norman membenarkan rekaman percakapan itu merupakan pembicaraannya dengan Haris pada Februari 2019.

"(Rekaman percakapan) saya dengan Pak Haris," kata Norman saat bersaksi di sidang suap mantan Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (2/10/2019).



Jaksa kemudian bertanya mengenai maksud kalimat penolakan dari ASN dalam percakapan Haris dengan Norman. Norman mengaku mendapatkan informasi penolakan dari ASN itu dari Haris.

"Kemudian ada 'Info mengenai ASN memang menolak sampeyan' betul itu? Dapat info dari mana?" kata jaksa.

"Dari dia," jawab Norman.

"Dari siapa?" tanya jaksa.

"Dari Pak Haris. Dia menyatakan bawah ada penolakan dari ASN," sambung Norman.

"Kan ini konteksnya percakapan Saudara dengan ketua...," ujar jaksa.

"Pada waktu itu, saya ketemu di Tambak Beras saya berbicara dengan pak menteri," balas Norman.

Setelah itu, jaksa bertanya mengenai kalimat lain yang ada dalam percakapan itu.

"Maksud saudara ketum sudah eee.... kan sama pak menteri apa?" tanya jaksa.

"Mungkin sama usulan dengan usulan kami," balas Norman.

"Menyampaikan ke menteri?" tanya jaksa.

"Pokoknya aspirasi saya kepada pak menteri maupun kepada terdakwa itu sama," jawab Norman.



Barulah jaksa lantas bertanya kepada Norman mengenai maksud 'trik Ketum sama Menag'. Menurut Norman, hal itu merujuk pada masalah Plt Kakanwil Kemenag Jatim.

"Ya pada waktu itu kami memang bicara pada waktu makan bareng sama pak menteri masalah kan karena Plt kalau memang masih ada masalah, Plt bisa diperpanjang karena bagaimanapun dia baik bekerja untuk Jawa Timur," ujar Norman.

Namun jaksa belum mendapatkan jawaban yang jelas mengenai pemilihan kata trik dalam percakapan itu. Jaksa terus mencecar Norman.

"Maksudnya trik itu bagaimana?" tanya jaksa.



"Mungkin Plt diperpanjang dulu itu," jawab Norman.

"Kenapa harus trik-trik segala macam, itu memang omongannya pak menteri sama itu atau bagaimana?" tanya jaksa.

"Pada waktu itu diskusi di Tambak Beras," kata Norman.

Berikut ini transkrip percakapan Haris dan Norman yang ditampilkan jaksa:

Haris: Assalamualaikum
Norman: Salam, Mas
Haris: Heem. Gimana pak?
Norman: Saya kan baru teleponan sama Ketum
Haris: Ah iya. Gimana? Gimana?
Norman: Ya saya sama ketum, sama ketua
Haris: Hee
Norman: Jadi iki memang surat ASN itu memang menolak sampeyan
Haris: He e(suara tidak jelas)
Norman: Tapi ketum sudah .....eee...... kan sama pak menteri tadi
Haris: Heehee
Norman: Acara sama pak menteri kan, sama pak presiden
Haris: Heem Gimana pak?
Norman: Nah tadingomong saya 'Wes Dik wis tak.. yok po - yok po kudu, pak Haris,'
Haris: He e he e
Norman: Jadi nanti sama plt diperpanjang sampeyan
Haris: Heem
Norman: Wis sabar dhisik. Barno Plt terus barno wis
Haris: Heem
Norman: Barno wis itu, itu triknya ketum sama pak menteri.
Haris: Oh gitu
Norman: Iyo wis
(knv/idn)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com