Resmi Jadi Rektor, Ari Kuncoro Pidato soal Social Capital dan UI

M Faisal Javier Anwar - detikNews
Rabu, 04 Des 2019 13:03 WIB
Pelantikan Rektor UI (Rahel/detikcom)
Pelantikan Rektor UI (Rahel/detikcom)
Jakarta - Profesor Ari Kuncoro, yang baru resmi menjabat sebagai Rektor Universitas Indonesia (UI), berbicara mengenai teori social capital. Hal itu disampaikan saat berpidato setelah pelantikan dirinya.

"Saya teringat pada sejarah. Kalau kita lihat itu bangsa-bangsa di Timur: Tiongkok, Jepang, Korea, sudah berkali-kali berganti dinasti, perang saudara, bahkan diintervensi oleh superpower. Tapi kita lihat sekarang ini kemajuan dunia ada di Timur, apakah Tiongkok, apakah Korea, apakah Jepang. Jadi kami bertanya-tanya, kira-kira apa sih yang menyebabkan mereka itu begitu tahan banting. Kami temukan jawabannya dari Dekan FIB (Fakultas Ilmu Budaya), yaitu yang kita sebut sebagai social capital," kata Ari di Balai Purnomo, kampus UI Depok, Rabu, (4/12/2019).

Dia menuturkan akan melanjutkan social capital yang telah dibentuk oleh pendahulunya, Profesor Muhammad Anis. Ari kemudian menjelaskan teori social capital membahas tentang jejaring manusia dan setiap aturan atau kebijakan harus memperhatikan akar budaya manusia.

"Jadi Pak Rektor sebelumnya meletakkan social capital untuk UI. Jadi Rektor selanjutnya bukan pemenang, tapi hanya melanjutkan social capital. Apa itu social capital? Social capital itu sebenarnya adalah kumpulan dari network, jejaring, dari manusia. Jadi ujung-ujungnya manusia. Jadi apa pun juga bentuk kebijakannya, itu harus selalu memperhatikan akar budaya manusia-manusia yang akan melakukan kebijakan dan akan terkena (pengaruh) kebijakan," jelas Ari.

Pada periode kepemimpinannya, Ari berharap UI mempertahankan social capital yang selama ini terbangun. Jika itu tidak dipertahankan, jejaring manusia, yang dapat menjadi modal kompetisi UI dengan universitas lainnya, UI akan memulai dari tahap nol lagi.

"Misalnya UI, itu institusi tidak belajar, tidak pernah belajar. Yang belajar itu adalah manusia-manusianya, jadi bagaimana kalau manusianya itu berganti? Itu merupakan sesuatu hal yang alamiah ya, serah-terima jabatan," tutur Ari.

"Jadi ada nilai-nilai yang disebutkan budaya tadi, yang harus dipertahankan, dan dilanjutkan oleh satu kepemimpinan, oleh satu generasi ke generasi yang lain. Kalau tidak, itu maka semuanya akan mulai dari scratch, dari nol," pungkas Ari. (aud/aud)