Kisah Putra Banjarbaru yang Jadi Peneliti Teknologi Nano di Jepang

Muhammad Risanta - detikNews
Selasa, 03 Des 2019 16:54 WIB
Foto: Shoufi Ukhtary (Dok. pribadi)
Foto: Shoufi Ukhtary (Dok. pribadi)

Shofie menjelaskan, bahwa model perkuliahan yang dilaksanakan di Tohoku University, sangat mengasah kemampuannya untuk bisa terus berkembang. Karena model perkuliahan di Jepang khususnya di Universitas Tohoku Jepang dilakukan selama dua semester di kelas dan laboratorium, yang kebanyakan by reseach.

"Teknologi nano saat ini masih belum berkembang di Indonesia. Bahkan masyarakat pun masih merasa asing dengan teknologi ini. Padahal, teknologi nano sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan berkontribusi dalam memajukan bangsa. Dengan teknologi ini kita dapat membuat zat menjadi ukuran yang sangat kecil, dan karena itu pula maka sifat dan fungsi zat tersebut bisa diubah sesuai dengan yang kita inginkan," kata Shoufie kepada detikcom, Selasa siang (02/12/2019).


Lebih lanjut Shoufi menjelaskan, bahwa Nanotechnology atau Teknologi nano adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengontrol zat, material dan sistem pada skala nanometer. Maka, teknologi ini pun mampu menghasilkan fungsi baru yang belum pernah ada. Ukuran 1 nanometer adalah 1 per satu miliar meter yang berarti 50.000 kali lebih kecil dari ukuran rambut manusia.

Bagi Shoufie, untuk bisa menembus dan bergabung dalam lingkaran peneliti terbaik dunia dan di Universitas Tohoku tidaklah mudah. Diperlukan perjuangan dan kerja keras yang luar biasa untuk mencapai posisi tersebut.

Dia sendiri pun merasa beruntung karena bisa meraih beasiswa MEXT dan JSPS dari Pemerintah Jepang tahun 2013 - 2018. Bahkan, semenjak menjalani program S2, ia sering ditugaskan oleh supervisornya untuk menjadi tutor mahasiswa junior. Setidaknya sudah 6 junior yang ia mentori dan mereka pun berhasil menerbitkan makalah bersama.

Berkat kegigihan dan banyaknya penelitian ilmiah yang ia lakukan, akhirnya sosok Shoufie mencuri perhatian kampus. Termasuk Profesor Riichiro Saito, yang tanpa ragu mengangkat Shoufi menjadi asisten profesor dan bergabung dalam tim mereka.

"Saya ingin membuat bangga orang tua saya dan Banua (nama daerah di Banjar Baru). Tentunya ke depan saya (ingin) bisa berbuat untuk memajukan negara melalui ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan. Gelar bagi saya bukan segala-galanya, tapi bagaimana keberadaan kita itu bisa memberi manfaat bagi orang banyak," ucap pria yang pernah menyabet Medali Emas Olimpiade Nasional Mahasiswa MIPA (ONMIPA) tahun 2012 ini.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3