detikNews
Selasa 03 Desember 2019, 12:08 WIB

Dikaitkan Teroris, Khilafatul Muslimin Klaim Dakwah Khilafah Tanpa Kekerasan

M Bakrie - detikNews
Dikaitkan Teroris, Khilafatul Muslimin Klaim Dakwah Khilafah Tanpa Kekerasan Pengurus Khilafatul Muslimin di Maros (Moehammad Bakrie/detikcom)
Maros - Polisi menyebut terduga teroris berinisial NAS, yang ditangkap di Bekasi, berasal dari organisasi Khilafatul Muslimin. Pengurus Khilafatul Muslimin menegaskan jalan dakwahnya organisasinya bukan dengan kekerasan.

Saat detikcom berkunjung ke kantor Khilafatul Muslimin di Desa Barugae, Mallawa, desa terpencil di perbatasan antara Kabupaten Maros dan Bone, Sulawesi Selatan, dua orang pengikut organisasi ini menyambut. Keduanya mengaku sebagai Mas'ul Ummah (Pemimpin Ummat) Desa Barugae dan Katib (Wakil Khalifah).


Mereka mengajak kami berdiskusi tentang apa yang menjadi tujuan mereka serta sejarah pendirian organisasi itu. Mereka berdua merupakan warga asli di desa itu.

Mas'ul Ummah, Haris Muddin, yang sehari-harinya berprofesi sebagai petani, dengan fasih menjelaskan, sejak runtuhnya kekhalifahan Turki Usmani pada 1924, orang Islam di seluruh dunia mengalami kekosongan pemimpin selama 73 tahun. Namun, setelah adanya muktamar umat Islam yang diikuti ribuan orang di Yogyakarta pada 2000, umat Islam, menurut dia, telah kembali memiliki pemimpin dengan diangkatnya Abdul Qadir Hasan Baraja sebagai khalifah.

"Barulah saat umat Islam menggelar Muktamar di Yogyakarta tahun 2000 yang dihadiri ribuan kaum Muslimin dari dalam maupun luar negeri, itu mengangkat beliau (Hasan Baraja) sebagai Khalifatul Muslimin untuk seluruh dunia dan pusatnya di Indonesia," lanjutnya.

Pemimpin Khilafatul Muslimin dalam kalender.Pemimpin Khilafatul Muslimin dalam kalender. (Moehammad Bakrie/detikcom)

Kekhalifahan yang mereka sebut itu merujuk pada pimpinan umat Islam secara global dan tidak terbatas pada negara. Mereka memberi contoh konsep kepemimpinan seorang Paus di Vatikan. Meski semua pemeluk Katolik ada di setiap negara, tapi mereka tetap mengakui Paus sebagai pimpinan agamanya.

"Kami tidak masalah dengan negara. Kami akui negara itu dipimpin oleh presiden. Tapi sebagai orang muslim kami juga harus punya pimpinan dan itu untuk semua muslim di dunia. Yah seperti modelnya Paus begitu," terangnya.


Untuk sampai pada tujuan itu, mereka menegaskan tidak akan menggunakan kekerasan dalam bentuk apa pun. Mereka pun hanya melakukan dakwah untuk menyampaikan ke kaum muslim jika saat ini sudah ada pemimpin yang melanjutkan kekhalifahan itu.

"Tentu tidaklah (kekerasan). Kami ini hanya melakukan syiar dakwah saja dan tidak ada paksaan ke mereka yang tidak mau ikut," sebutnya.

Sementara itu, Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Maros Rahmat Bustar menuturkan organisasi Khilafatul Muslimin sudah ada sejak 2008 di wilayah Maros. Saat ini pun pihaknya masih terus mendalami organisasi yang statusnya tidak didaftarkan ke pemerintah daerah itu.

"Hari ini kami juga turun memantau aktivitas mereka di wilayah Camba. Kami sudah periksa berkasnya, memang tidak terdaftar di kami. Kalau soal ajarannya, kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Kemenag dan MUI," kata Rahmat Bustar.

Rahmat mengatakan keberadaan organisasi Khilafatul Muslimin itu telah menjadi sorotan warga. Apalagi belakangan dikabarkan bahwa organisasi itu memiliki hubungan dengan organisasi yang sudah dilarang di Indonesia. Warga juga telah banyak melayangkan protes ke pemerintah setempat.

"Sudah banyak warga yang protes itu. Makanya kami turun untuk memantau langsung seperti apa sebenarnya organisasi ini. Ya banyaklah isunya, seperti ada kaitannya dengan organisasi ini dan itu," sebutnya.

Maktab Khilafatul Muslimin.Maktab Khilafatul Muslimin (Moehammad Bakrie/detikcom)

Selama ini, kata Rahmat Bustar, sudah banyak warga yang dibaiat untuk ikut organisasi itu. Bahkan di antaranya merupakan Aparatur Negeri Sipil (ASN) di kecamatan dan beberapa dari mereka adalah staf di pemerintah desa. Selebihnya warga biasa.

"Kita tidak tahu pasti jumlahnya berapa, tapi kami tahu kalau ada anggotanya itu ASN dari kecamatan dan juga ada beberapa staf desa. Berkas keanggotaannya itu memang tidak kita temukan," pungkasnya.


Pada Minggu (13/10) silam, Densus 88 Antiteror menggeledah kontrakan tersangka teroris berinisial NAS di Tambun, Kabupaten Bekasi. Polisi menyebut NAS adalah bagian dari Khilafatul Muslimin. Di situ ditemukan satu kardus berisi data Khilafatul Muslimin dan satu logo bordir Khilafatul Muslimin.

"Tersangka merupakan bagian dari Khilafatul Muslimin," kata Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Candra Kusuma kepada wartawan, Minggu (13/10) kemarin.


Simak Video "Soal SKT FPI, Mendagri Tito Soroti AD/ART dan Khilafah Islamiyah"

[Gambas:Video 20detik]


(tor/tor)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com