detikNews
Selasa 03 Desember 2019, 11:56 WIB

Menelusuri Khilafatul Muslimin di Maros, Organisasi yang Dikaitkan Teroris

M Bakrie - detikNews
Menelusuri Khilafatul Muslimin di Maros, Organisasi yang Dikaitkan Teroris Maktab Khilafatul Muslimin di pelosok Maros. (M Bakrie/detikcom)
Maros - Seorang teroris berinisial NAS ditangkap di Tambun oleh polisi. NAS disebut berasal dari organisasi Khilafatul Muslimin. Organisasi ini tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia, salah satunya di pelosok Maros.

Sebelas tahun sudah organisasi jemaah Khilafatul Muslimin berdiri di Desa Barugae, Mallawa, desa terpencil di perbatasan antara Kabupaten Maros dan Bone, Sulawesi Selatan. Organisasi ini kini dikaitkan dengan kegiatan terorisme.


Di Desa Barugae, sekitar 30 warga telah berbaiat ke organisasi yang dipimpin oleh Abdul Qadir Hasan Baraja itu. Hasan Baraja diakui oleh pengikutnya sebagai khalifah.

Di desa terdapat sebuah maktab atau kantor Khilafatul Muslimin perwakilan Mallawa. Lokasi kantor ini berada di tengah perkebunan, jauh dari permukiman warga.

Saat detikcom berkunjung langsung, dua orang pengikut organisasi ini, yang mengaku sebagai Mas'ul Ummah (Pemimpin Ummat) Desa Barugae dan Katib (Wakil Khalifah) mengajak kami berdiskusi tentang apa yang menjadi tujuan mereka serta sejarah pendirian organisasi itu. Mereka berdua merupakan warga asli di desa itu.

"Tujuan kami itu pastinya untuk beribadah dan melaksanakan perintah Allah untuk menaati Allah, Rasul dan ulil amri (pemerintah)," kata Mas'ul Ummah Khilafatul Muslimin, Haris Muddin, Selasa (3/12/2019).


Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Maros Rahmat Bustar menuturkan organisasi Khilafatul Muslimin sudah ada sejak 2008 di wilayah Maros. Saat ini pun pihaknya masih terus mendalami organisasi yang statusnya tidak didaftarkan ke pemerintah daerah itu.

"Hari ini kami juga turun memantau aktivitas mereka di wilayah Camba. Kami sudah periksa berkasnya, memang tidak terdaftar di kami. Kalau soal ajarannya, kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait, seperti Kemenag dan MUI," kata Rahmat Bustar.

Dalam laporan International Crisis Group (ICG) berjudul 'Al Qaeda in Southeast Asia: The Case of The Ngruki Networks in Indonesia', terbitan 2002, ada keterangan mengenai sosok Abdul Qadir Baraja. Baraja adalah pendiri Khilafatul Muslimin.

Peristiwa terorisme pengeboman Candi Borobudur terjadi pada 21 Januari 1985. Sembilan stupa yang baru direstorasi rusak. Dari tujuh orang yang ditangkap aparat terkait pengeboman itu salah satunya adalah Baraja.

"Seorang penjual baju dan penceramah keliling, Abdul Qadir Baraja," tulis laporan itu.

Baraja berasal dari Sumbawa. Sebelum ditangkap terkait bom Borobudur, Baraja juga dicokok aparat pada 1979 terkait peristiwa perampokan dan pembunuhan yang dilakukan jaringan Warman. Tiga tahun dipenjara, dia kemudian keluar dan pergi ke Telukbetung, Lampung.


Dia ditangkap aparat di lokasi itu pada Mei 1985 karena diduga terkait bom Borobudur. Selanjutnya, dia dipenjara 13 tahun. Dia didakwa menyediakan bahan peledak untuk bom Borobudur.

"Dia selalu membantah bahwa dia tahu bahan peledak yang dia beli akan dipakai untuk aksi teror (bom Borobudur)," kata Direktur Institute of Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones, kepada wartawan, Senin (14/10/2019).

Dijelaskan Jones, Baraja adalah ustaz radikal yang dulu dekat dengan Abu Bakar Ba'asyir. Dilansir dari situs Khilafatul Muslimin, Baraja menggagas kelompok ini pada 18 Juli 1997.

"Khalifatul Muslimin (KM) adalah gerakan nonkekerasan yang ingin membangun kembali khilafah, tapi dengan visi yang lebih mirip Kartosoewirjo daripada ISIS," kata Jones.

Apakah KM terkait Jamaah Ansharut Daulah (JAD)? "Setahu saya belum ada keterkaitan, walaupun bisa saja ada mantan anggota KM yang menyeberang ke JAD. Tapi KM memang non-violent," tutur Jones.

Sebelumnya, Minggu (13/10) silam, Densus 88 Antiteror menggeledah kontrakan tersangka teroris berinisial NAS di Tambun, Kabupaten Bekasi. Polisi menyebut NAS adalah bagian dari Khilafatul Muslimin. Di situ ditemukan satu kardus berisi data Khilafatul Muslimin dan satu logo bordir Khilafatul Muslimin.

"Tersangka merupakan bagian dari Khilafatul Muslimin," kata Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Candra Kusuma kepada wartawan, Minggu (13/10) kemarin.

Simak Video "Polri Tangkap 74 Terduga Teroris, Komisi III: Deradikalisasi Belum Maksimal"

[Gambas:Video 20detik]


(tor/tor)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com