Abang Ojol Disabilitas Ini Mimpi Sekolahkan Anak hingga Universitas

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Senin, 02 Des 2019 12:19 WIB
Foto: Grab
Foto: Grab
Jakarta -

Bonar (30) akhirnya memilih bekerja menjadi driver ojek online (online) di Bandung untuk memenuhi ekonomi kehidupan dirinya dan keluarganya. Sebagai penyandang tunarungu, Bonar mengaku pernah empat kali ditolak waktu melamar kerja.

"Awalnya saya ditolak empat kali waktu melamar di beberapa tempat, tapi saya sabar dulu. Kemudian saya terpikir untuk menjadi mitra pengemudi transportasi online dan bikin foto dengan tulisan di kertas. Saya minta agar bisa bekerja di Grab," ujar Bonar dengan bahasa isyarat seperti dilansir di situs Grab, Senin (2/12/2019).

"Akhirnya foto saya viral, tahun 2017 kalau tidak salah. Saya juga kaget. Orang-orang banyak berkomentar. Akhirnya, bos Grab dari Jakarta telepon saya. Dia bilang, 'Ayo kamu lamar, InsyaAllah kamu diterima.' Ketika buka Whatsapp, Alhamdulillah saya diterima, senang banget. Akhirnya saya diterima," tutur Bonar.

Bonar menarik ojol mulai pukul 4 subuh hingga 10 malam. Hal itu dilakukannya setiap hari untuk menafkahi keluarga dan menunjang masa depan anaknya yang baru berusia 5 tahun. Bonar bercita-cita bisa terus membiayai pendidikan putrinya hingga jenjang paling tinggi. Maka, dia bertekad untuk menabung dan mengasuransikan hasil jerih payahnya sejak dini.

"Hasil kerja ini untuk keluarga, menabung, asuransi untuk masa depan anak saya. Saya ingin anak saya kuliah. Jadi, saya menabung dari sekarang," ucap Bonar.

Di sisi lain, sebagai teman tuli, dia merasa tidak kesulitan berkomunikasi dengan customer. Dia sudah terbiasa menggunakan fitur berkirim pesan untuk memberitahukan bahwa dirinya tuli sejak awal.

"Biasanya customer pada ramah ke saya ketika tahu saya tuli. Kerja di Grab juga mudah. Ketika sudah sampai di tempat menjemput, saya chat customer, terus saya konfirmasi. Setelah itu saya kasih helm dan jalan seperti biasa. Kalau mau jalan pintas, mereka bisa tepuk pundak saya, misalnya kalau mau ke kanan tepuk pundak kanan dan sebaliknya," ujarnya.

"Kalau misalnya saingan dengan orang dengar ya tidak apa-apa saingan saja. Kadang biasanya ada yang mengejek, ah tapi tidak apa-apa, mungkin mereka bercanda," imbuhnya.

Bonar merupakan teman tuli pertama di Bandung yang menjadi mitra GrabBike yang bergabung sejak April 2017. Di Bandung, kata Bonar, kini sudah ada 20 mitra teman tuli yang menjadi mitra GrabBike.

"Kadang-kadang sering ketemu. Kadang sudah tahu bahwa kita sama-sama teman tuli, kemudian ngobrol dengan bahasa isyarat tentunya. Terus makan bareng, saling traktir-traktiran. Kadang-kadang ada perbedaan komunikasi, saya komunikasinya bisa sedikit bicara dan isyarat, tapi yang lain beda, tapi tidak apa-apa, pelan-pelan saja," katanya.

Bonar juga mengapresiasi program Grab 'Mendobrak Sunyi' yang bekerja sama dengan GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) pada September lalu. Salah satunya dengan menawarkan kesempatan bagi teman tuli menjadi mitra pengemudi Grab.

Kini ada banyak pembaharuan dari sistem teknologi Grab seperti fitur bantuan khusus, materi pelatihan menggunakan subtitle dan juga alat bantu komunikasi di dalam mobil dan di atas motor.

Sudah 3 tahun bekerja jadi drivel ojol, Bonar mengaku selalu menghormati penumpang dan mengutamakan keselamatan selama berkendara. Karena itu, dia tidak pernah mengalami kecelakaan. Selain itu, ia juga berharap semakin banyak orang yang belajar tentang tuli.

"Sehingga tahu tuli itu seperti apa. Jadi semuanya saling mengetahui dan bekerja sama. Saya juga ingin bilang kepada orang-orang, kita harus tahu bahwa tuli dan dengar itu sama-sama berjuang, bekerja," pungkasnya.




Tonton juga video Kisah Driver Ojol di Bandung, Ngojek Sambil Gendong Anak:

[Gambas:Video 20detik]



(mul/ega)