Reshuffle Dianggap Tak Perlu, Hanya Bagi-bagi Jatah Partai

Reshuffle Dianggap Tak Perlu, Hanya Bagi-bagi Jatah Partai

- detikNews
Kamis, 17 Nov 2005 16:10 WIB
Jakarta - Tidak semua orang setuju reshuffle kabinet. Pengamat politik Fachri Ali menilai reshuffle hanya menjadi ajang bagi-bagi jatah parpol pendukung pemerintah."Jadi menurut saya tidak perlu ada reshuffle dalam Kabinet Indonesia Bersatu," cetus Fachri kepada detikcom di sela diskusi di Wisma Kodel, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Kamis (17/11/2005).Apalagi, lajut Fachri, tuntutan reshuffle datang dari partai-partai yang semata-mata menginginkan adanya bagi-bagi posisi menteri, dan mereka seringkali mengatasnamakan rakyat. Padahal kekuatan SBY-Kalla melebihi kekuatan parpol. "Jadi itu hanya bagi-bagi jatah saja. Kalau SBY-Kalla sadar, seharusnya tidak perlu melakukan reshuffle kabinet, karena ia lebih kuat," tegas Fachri.Apalagi, imbuhnya, tuntutan-tuntutan parpol sangat tidak rasional dan memiliki tendensi untuk menyudutkan salah satu partai."Kalau SBY mengatakan dua menteri yang akan di-reshuffle, tuntutannya pasti salah satunya dari Golkar. Kalau empat menteri, pasti dua dari Golkar," katanya.Berbeda dengan Fachri, salah satu pengurus PDIP Budiman Sudjatmiko justru mendesak Presiden SBY me-reshuffle menteri-menterinya, terutama menteri ekonominya. Ia menyimpulkan, tim ekonomi Megawati lebih baik ketimbang SBY-Kalla.Apalagi, katanya kepada detikcom, saat ini ia mendengar isu kalau tokoh PDIP Kwik Kian Gie dan mantan Menkeu Boediono akan dimasukkan dalam kabinet."Mereka adalah tim Mega dulu. Ini artinya tim ekonomi Mega lebih baik dari yang sekarang," sindirnya.Budiman juga mengatakan, PDIP berkomitmen di luar pemerintah sebagai penyeimbang. "PDIP tetap pada komitmennya. Meski Pak Kwik masuk kabinet, maka itu di luar kebijakan partai," tegasnya. (umi/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads