Ayu Kartika Dewi Ungkap Riwayat Kegagalan Pribadinya, Apa Saja?

Hanif Mustafad - detikNews
Jumat, 29 Nov 2019 16:36 WIB
Ayu Kartika Dewi (Lukisan: Edi Wahyono)
Ayu Kartika Dewi (Lukisan: Edi Wahyono)
Jakarta -

Di balik sejumlah prestasi, Staf Khusus Presiden (SKP) Ayu Kartika Dewi mengutarakan serangkaian kegagalan yang pernah dialaminya hingga akhirnya meluncurkan kanal youtube "Perempuan Gagal".

Kepada Tim Blak-blakan detik.com, ia menceritakan perjuangannya untuk meraih gelar master bisnis dari Universitas Duke di Amerika Serikat (AS). Dua beasiswa yang (Keller dan Fulbright) baru didapat setelah sekitar 10 kali mencoba dan gagal. Tapi dia tidak kapok dan frustasi, terus mencoba dan memperbaiki kesalahan.

"Orang selalu bilang saya gampang mendapat beasiswa. Tapi tak tahu saya gagal sekitar 10 kali," ucap pendiri gerakan Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali (SabangMerauke) ini.

Di awal masa perkuliahan, SKP yang membidangi toleransi dan perdamaian ini mengaku harus meluangkan energi dan waktu dua kali lipat dari mahasiswa lainnya karena faktor bahasa.

"Ketika terjadi penembakan terhadap mahasiswa muslim di dekat kampus, terus terang saya sempat merasa takut akan menjadi korban berikutnya," kata perempuan kelahiran Banjarmasin, 27 April 1983 itu.

Kejadian tak mengenakan juga sempat menimpanya saat menjalani program pertukaran pelajar ke London Economic School di Inggris. Saat baru sebulan di London visa dipersoalkan dan dia harus kembali ke AS. Padahal kamar apartemen di AS telah diisi orang lain. Akhirnya dia harus menumpang di apartemen temannya selama dua bulan dan tidur di sofa.

Saat di Amerika itu pula hubungan dengan suaminya di tanah air akhirnya tak bisa diselamatkan. "Jadi waktu itu adalah masa dimana saya ngerasa banyak gagal dalam semua aspek hidup," tuturnya.


Sebagai bagian dari upaya menormalisasi kegagalan dalam sebagian perjalanan hidupnya, dia akhirnya membuka diri. Dia mengisahkan apa saja kegagalan yang pernah dialami, juga mendengarkan kisah kegagalan orang lain lewat program Perempuan Gagal.

"Intinya kami ingin menormalisasi kegagalan, semua orang pernah gagal, semua perempuan pernah gagal dan itu tidak apa-apa," tutur Ayu.

(hnf/jat)