BUMN Masih Jadi Pemain Utama Pengembangan Industri Pertahanan
Kamis, 17 Nov 2005 14:36 WIB
Jakarta - Kiprah BUMN dalam pengembangan industri pertahanan hingga kini masih diperhitungkan pemerintah. BUMN tetap dijadikan pemain utama, sedangkan pemain swasta belum ditetapkan secara spesifik keterlibatannya.Hal tersebut disampaikan Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman usai rapat tentang Pemberdayaan Industri Pertahanan di Kantor Menko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (17/11/2005).Beberapa BUMN yang ikut serta dalam pengembangan industri pertahanan di Indonesia antara lain PT PAL, Pindad, dan PT DI. Sementara perusahaan pendukung yang ikut serta adalah PT Krakatau Steel (BUMN) untuk suplai baja dan PT Dahana untuk suplai amunisi dan bahan peledak."Ini industri-industri yang jadi pemain utama. Bahwa nanti dalam pelaksanaannya menggunakan industri atau swasta, belum ditetapkan secara spesifik," ungkapnya.Kusmayanto juga menegaskan, sebenaranya RI sudah bisa memproduksi berbagai komponen alat utama sistem persenjataan seperti senapan serbu, pistol, kendaraan tempur, kendaraan taktis, baik untuk mengangkut personel maupun anti huru-hara."Jadi sudah semua sektor dari low sampai medium teknologi kita sudah mampu. Hanya saja yang hi-tech, seperti pesawat tempur sejenis F-16, Sukhoi, kapal selam, dan radar kita belum mampu," katanya.Mengenai rencana kerja sama pembuatan rudal dengan Cina, Kusmayanto mengatakan, masih dalam tahap negosiasi, terutama mengenai kemampuan pihak Cina dibandingkan kemampuan yang diperlukan bagi Indonesia. Untuk RI yang terdiri dari pulau-pulau dan laut dibutuhkan rudal dengan jarak tertentu."Model mana yang klop, local contain-nya seperti apa, peningkatan SDM lokal dan pabriknya gimana. Idealnya sih uang dari mereka dan pabriknya di kita. Tapi itu masih nego," katanya.
(umi/)











































