ACT Dirikan Indonesia Medical Clinic Layani Ratusan Korban Gaza

Yakob Arfin - detikNews
Senin, 25 Nov 2019 19:21 WIB
Foto: Aksi Cepat Tanggap
Foto: Aksi Cepat Tanggap
Jakarta - Sebanyak 35 orang meninggal dunia dan 111 orang mengalami luka-luka saat Israel kembali membombardir Gaza, pekan lalu. Dari seluruh korban 20 orang di antaranya adalah perempuan dan 46 orang anak-anak.

Melihat banyaknya korban luka serta akses di Gaza yang sulit mendorong Aksi Cepat tanggap (ACT) untuk mendistribusikan bantuan berupa alat-alat medis kepada 338 jiwa. Tak hanya itu, ACT juga mendirikan Indonesia Medical Clinic. Bantuan tersebut diberikan kepada mereka yang terluka akibat serangan dari Israel dan juga korban luka saat Great Return March (GRM).

Sementara itu, berbagai akses untuk warga Gaza pun dibatasi. Situasi ini memperparah warga di Gaza yang menderita luka-luka maupun yang sakit. Peneliti konflik di Gaza Khodor Aldaraj menilai Gaza saat ini merupakan sebuah penjara raksasa, sehingga akses masuk dan keluar dibatasi.

"Sungguh, jika seseorang menderita sakit parah di Gaza, seolah dia sudah mendapatkan vonis mati. Mungkin dia masih dapat selamat seandainya mendapatkan pengobatan, tetapi mereka (para penjajah) memvonis mati orang tersebut dengan menghalangi masuknya obat-obatan dan perlengkapan medis untuk masuk Gaza," kata Khodor dalam keterangan tertulis, Senin (25/11/2019).


Sementara itu, Tim Global Humanity Response (GHR)-ACT Andi Noor Faradiba mengungkapkan pihaknya tengah memberikan sejumlah bantuan berupa alat medis, mendirikan Indonesia Medical Clinic dan santunan sesuai kebutuhan masyarakat Gaza. Ada beberapa bantuan seperti alat bantu untuk berjalan, popok orang dewasa, obat-obatan, pembersih luka, dan perban.

ACT Dirikan Indonesia Medical Clinic Layani Ratusan Korban GazaFoto: Aksi Cepat Tanggap

"Bantuan-bantuan ini kita berikan kepada mereka yang terluka akibat serangan dari Israel dan juga korban luka saat Great Return March (GRM) lalu. Indonesia Medical Clinic kemudian digunakan untuk pelayanan medis untuk tahap awal atau emergency buat para korban yang tidak harus mendapatkan bantuan advanced di rumah sakit. Tempat yang diinisiasi ACT ini, tetap menyediakan tenaga dokter umum dan dokter ahli untuk menjadi tempat konsultasi dan pemberian obat-obatan," jelas Faradiba.

Setiap pekan, lanjut Faradiba, puluhan hingga ratusan orang terluka dalam Great Return March, termasuk perempuan dan anak yang ikut dalam aksi tersebut. Unjuk rasa yang biasa dilakukan masyarakat Palestina di perbatasan Gaza ditangguhkan pada Jumat lalu. Hal itu merupakan arahan Komisi Nasional Great Return March melihat kondisi eskalasi agresi Israel ke wilayah-wilayah Gaza sejak Selasa (12/11/2019) lalu.


"Kita berikan bantuan dari dermawan Indonesia untuk warga Kota Gaza, Gaza Utara, serta wilayah Shijayyah. Rencananya kita akan ada lanjutan bantuan untuk warga yang menderita luka-luka. Kita sedang dalam proses pengaktifan Indonesia Medical Clinic untuk bantuan yang lebih holistik. Saat ini kita sedang melakukan cat ulang, penambahan listrik, lampu, furnishing, dan lain sebagainya. Insyaallah, kami targetkan klinik akan aktif beroperasi mulai minggu depan," tutup Faradiba. (akn/ega)