Fadli Zon Kritik Nadiem Tak Angkat Isu Kesejahteraan di Pidato Hari Guru

Haris Fadhil - detikNews
Senin, 25 Nov 2019 17:10 WIB
Fadli Zon (Foto: Lisye Sri Rahayu-detikcom)
Jakarta - Waketum Gerindra Fadli Zon mengkritik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim gara-gara pidato peringatan Hari Guru dinilainya tak menyinggung masalah kesejahteraan guru. Fadli mempertanyakan alasan Nadiem tak mengangkat isu kesejahteraan guru.

"Dalam naskah pidato Mendikbud untuk memperingati Hari Guru tahun ini, saya melihat, kesejahteraan guru juga belum menjadi perhatian utama. Dari teks pidato yang beredar di media, saya perhatikan Mendkibud lebih banyak memberikan 'arahan' ketimbang 'penghargaan' kepada para guru. Padahal, semangat utama peringatan Hari Guru bertujuan agar semua pihak, terutama pemerintah, untuk menghormati, mengapresiasi, dan meningkatkan kesejahteraan guru. Tapi sayangnya, pesan tersebut tak tercermin dalam pidato Mendikbud tahun ini. Tentunya, ini patut menjadi pertanyaan kita bersama, kenapa isu kesejahteraan guru tidak ada dalam public address Mendikbud?" kata Fadli kepada wartawan, Senin (25/11/2019).
Dia mengatakan masalah kesejahteraan guru merupakan ironi di Indonesia. Fadli mengatakan kunci pendidikan terletak pada kualitas tenaga pengajar.

Namun, hingga saat ini pemerintah belum serius mengatasi masalah kesejahteraan guru, terutama guru honorer. Dia kemudian menyinggung masalah Indonesia yang sedang darurat guru karena jumlah guru PNS saat ini berada pada angka 1,3 juta orang padahal kebutuhan guru mencapat 2,1 juta orang dan terus meningkat sementara ada 52 ribu guru PNS yang segera pensiun.

"Sebagian kekurangan tersebut coba ditutupi dengan guru berstatus P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) dan sisanya, sebanyak 746.121 guru coba dipenuhi oleh pemerintah melalui guru honorer. Namun, keberadaan guru berstatus honorer, menurut saya, bukannya menyelesaikan masalah tapi justru memunculkan masalah baru, di mana kesejahteraan guru honorer ternyata masih sangat jauh dari layak," tuturnya.
Menurut Fadli, banyak masalah terkait pendapatan guru honorer di Indonesia. Misalnya, kata Fadli, ada guru honorer di Pandeglang yang mendapat honor Rp 350 ribu per bulan dan terpaksa tinggal di toilet sekolah.

"Guru honorer di Samarinda yang sudah 10 tahun mengajar, namun bertahan dengan gaji Rp 800 ribu perbulan. Kisah tersebut bisa jadi hanya fenomena gunung es saja. Realita di lapangan, tentunya lebih banyak lagi," ucap Ketua BKSAP DPR ini.
Selanjutnya
Halaman
1 2