Perjuangan Pendidik Mengajar dan Antar Jemput Anak Kebutuhan Khusus

Yakob Arfin Tyas Sasongko - detikNews
Senin, 25 Nov 2019 16:28 WIB
Foto: Pertamina
Foto: Pertamina
Jakarta -

Puluhan anak berkebutuhan khusus berdoa sebagai tanda dimulainya kegiatan belajar mengajar di Sekolah Dreamable. Setelah berdoa, anak-anak pun dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengikuti kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhannya.

Sebagian besar kegiatan bagi anak-anak Dreamable berorientasi pada aktivitas gerak dan permainan. Tentu, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak, karena anak-anak Dreamable merupakan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) yang unik dan memiliki fokus kemampuan berbeda satu sama lainnya.

Saat ini sebanyak 42 siswa mendapat pengajaran dari sekitar 11 guru sukarelawan yang sebagian masih menimba ilmu di Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Universitas Islam Nusantara, Bandung.

Tak hanya dari Bandung, para guru pengajar berasal dari berbagai daerah seperti Sumedang, Ciamis, bahkan Lombok, dan Nusa Tenggara Barat.

Sebut saja Roza Apriyansah (24 tahun), yang bergabung di Sekolah Dreamable sejak tahun 2019. Roza tertarik menjadi guru relawan setelah bertemu dengan teman sesama mahasiswa yang telah lebih dahulu menjadi guru relawan di Dreamable.

"Awalnya berkenalan dengan teman mahasiswa, asal Tegalluar, yang sudah menjadi guru relawan. Ada Ibu Yulianti, dan Bu Eulis. Mendengar cerita mereka sebagai relawan pengajar anak berkebutuhan khusus, saya tertarik bergabung, Apalagi murid ABK di Sekolah Dreamable jumlahnya cukup banyak," kata Roza dalam keterangannya yang diterima detikcom, Senin (25/11/2019).

Kegiatan guru-guru relawan di Sekolah Dreambel pun tersebar dari mulut ke mulut di Universitas Islam Nusantara Bandung. Kini total mahasiswa yang mengajar tercatat 8 orang. Sedangkan salah satu guru relawan lainnya adalah Sarjana Bahasa Inggris serta dua guru pendamping lulusan SMA.

Tak hanya mengajar, guru relawan ini juga menjadi 'ojek' antar-jemput siswa ABK yang umumnya berasal dari keluarga memiliki keterbatasan untuk mengantar anaknya ke sekolah.

"Kami para guru relawan juga bertugas menjemput anak-anak. Biasanya, kami jemput anak-anak yang searah dengan rumah," kata Eulis, salah satu guru relawan Dreamble.

Lahirnya Dreamable tidak lepas dari inisiatif Yulianti (36 tahun), warga Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Ia memiliki tiga orang anak, di mana anak sulungnya merupakan anak berkebutuhan khusus. Kondisi ini memicu semangatnya untuk mendidik anaknya sekaligus mendobrak penilaian orang kebanyakan.

"Menyadari anak saya berkebutuhan khusus, saya termotivasi untuk bisa memandirikan anak saya. Saya ingin membuktikan dan memberikan contoh kepada semua orang, bahwa kunci mendidik anak berkebutuhan khusus adalah telaten, sabar dan ikhlas. Jangan sampai anak-anak tersebut dikucilkan atau malah disembunyikan," kata Yulianti.

Terbukti, anak sulung Yulianti yang kini telah berusia 17 tahun bisa hidup mandiri.

Belajar dari pengalaman mendidik anaknya tersebut, Yulianti mengumpulkan ABK di sekitar tempat tinggalnya dan mendirikan Sekolah Dreamable di salah satu ruangan di rumah tinggalnya. Bahkan akhirnya beberapa orang tua ikut tergerak dan terjun menjadi relawan pengajar di Sekolah Dreamable.

Seiring terus bertambahnya murid, Yulianti bertemu dengan Cecep Hidayah, Doktor di bidang Ekonomi. Cecep merupakan Ketua sekaligus pemilik Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Hidayah, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang pendidikan. Cecep pun secara sukarela menyumbangkan ruang kelas dan halaman Yayasan Hidayah untuk kegiatan belajar anak-anak berkebutuhan khusus.

"Kami dari PKBM memberikan ruang sekaligus menjadi wadah yang resmi berkekuatan hukum, agar kegiatan belajar anak berkebutuhan khusus tersebut dapat menjangkau semakin banyak ABK. Sehingga sekolah Dreamable bisa menjadi solusi pelayanan pendidikan bagi masyarakat," jelas Cecep.

Di PKBM Hidayah, Cecep menambahkan, para guru relawan tidak mendapatkan honor, hanya makan siang saja. "Guru relawan benar-benar mengabdi, untuk memberikan pendidikan yang selayaknya diperoleh ABK," ujarnya.

Berkembangnya Sekolah Dreamable tak terlepas dari peran Fuel Terminal Pertamina Bandung Group yang mendukung program Dreamable sejak tahun 2018. Bantuan sarana dan prasarana pendidikan senantiasa disokong oleh salah satu Unit Bisnis Pertamina.

Bantuan-bantuan tersebut di antaranya alat peraga dan alat sekolah, perbaikan bangunan kelas, mobil Home Care atau kendaraan antar jemput untuk ABK, serta bersama-sama menerapkan sistem pengajaran AKSI TEMAN (karAKter soSIalisasi poTEnsi MANdiri). Yakni, setiap guru akan melihat potensi bakat setiap anak dan membagi kelas sesuai potensi anak tersebut.

Relawan guru di Sekolah Dreamble Bojongsoang adalah sebagian dari relawan guru di daerah lainnya yang memiliki motivasi sama dengan guru lainnya. Terutama dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus agar bisa mendapatkan wadah pendidikan yang tepat, untuk menggali potensi sekaligus memandirikan mereka.

Bagi para guru relawan mendidik ABK adalah kunci surga, di mana mereka bisa memberikan manfaat bagi orang lain, berbagi ilmu, kasih sayang dan perhatian dengan ikhlas.

Meski berstatus relawan, mereka adalah guru yang mengemban tugas mulia dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa, khususnya anak-anak berkebutuhan khusus.


Simak Video "Listrik Penopang Pendidikan di Pulau Buru"

[Gambas:Video 20detik]

(mul/mpr)