Tunanetra Terperosok di Celah Peron, Petugas KRL Dituntut Sensitif

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Senin, 25 Nov 2019 16:25 WIB
Pihak Muhammadiyah menemui kunjungan PT KCI, usai insiden terperosknya aktivis IMM ke celah peron. (Wilda Nufus/detikcom)
Jakarta - Seorang aktivis Muhammadiyah tunanetra terperosok di celah peron saat hendak masuk ke gerbong kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Cikini. Kini petugas KRL dituntut agar sensitif terhadap kaum difabel.

Hal ini disampaikan oleh aktivis Muhammadiyah tunanetra tersebut, yakni Ketua Pengkaderan PP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Fazlur Rahman. Fazlur terperosok di celah peron pada Minggu (17/11) pekan lalu. Saat terperosok, bahkan dia sempat diperintahkan petugas untuk naik sendiri. Sebagai tunanetra, dia tidak paham harus naik ke mana.



"Petugasnya sempat bilang, 'Naik!' Padahal komunikasi kita penyandang disabilitas itu berbeda-beda. Kalau kita tuh naik, naik apa dulu begitu. Perspektif yang berbeda yang terjadi antara petugas dan disabilitas," tutur Fazlur usai pertemuan dengan PT Kereta Commuterline Indonesia (PT KCI) di Kantor PP Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Senin (25/11/2019).

Saat kejadian tersebut Fazlur pada akhirnya mengaku dibantu naik oleh petugas itu dan berhasil masuk gerbong kereta. Dia menderita luka-luka di kaki, tangan, dan pinggang. Dia menyatakan tak ada petugas yang peduli dengannya saat dia sudah berada di dalam gerbong.



Dia berangkat dari Stasiun Cikini menuju Stasiun Bekasi. Saat sampai di Stasiun Klender, petugas tak langsung menghampirinya untuk membantu Fazlur yang mengalami luka-luka. Dia baru mendapat bantuan petugas usai seseorang mengantarkannya menemui petugas.

Tonton juga Kreasi Anak Difabel Mejeng di Terowongan Kendal Dukuh Atas :




Secara umum, dia menuntut peningkatan pelayanan dari pihak PT KCI untuk kaum difabel. Pelayanan untuk kaum difabel berbeda-beda, tergantung jenis difabelnya.

"Butuh juga pelayanan pelayanan kemanusiaan seperti pendampingan yang baik, komunikasi pendampingan yang baik, ataupun sentuhan yang baik, karena penyandang disabilitas ini banyak kategori para penyandang tunanetra berbeda cara berkomunikasi, untuk autis berbeda cara berkomunikasinya, untuk tuli berbeda cara berkomunikasinya," tutur Fazlur.



Maka dengan demikian, petugas-petugas PT KCI yang berada di stasiun perlu diberi pelatihan khusus supaya bisa mendampingi kaum difabel secara maksimal. Diharapkannya, kejadian membahayakan yang dialaminya tak akan pernah terjadi lagi.

"Ini perlu ditingkatkan di sisi pelatihan dan tidak terputus. Perlu selalu upgrade. Kita dari penyandang disabilitas pun juga meningkatkan kapasitas kemandirian," kata Fazlur.



Majelis Pelayanan Sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Farid Ari Fandi, meminta petugas di stasiun perlu lebih peka dengan kebutuhan kaum difabel. "Bangunlah sensitivitas petugas, bagaimana ketika menerima adisabilitas. Yang jadi komitmen tuntutan kita, harus ada refresh pengetahuan secara terus-menerus. Nggak bisa hanya sekali," kata dia.

Baru saja, PT KCI selaku pengelola KRL bersilaturahmi ke Muhammadiyah, menindaklanjuti peristiwa terjatuhnya Fazlur. Farid menyampaikan, PT KCI tadi berbicara soal pengembangan aplikasi untuk kaum difabel.

"Kami merespons baik PT KCI ke sini. Tapi kami tetap menuntut perbaikan. Kami saling memberi masukan, ada 13 poin. Intinya, strategi untuk memperbaiki sensitivitas dalam memberikan pelayanan," tutur Farid. (dnu/hri)