Pesantren Diimbau Tak Ajarkan Pendidikan Radikal
Rabu, 16 Nov 2005 19:58 WIB
Bandung - Khawatir agama disalahgunakan pelaku teroris, pesantren diminta tidak mengajari pendidikan keagamaan yang radikal. Sebab, disinyalir materi ini menyebabkan munculnya pemahaman sempit terhadap ajaran Islam."Secara bertahap kita sudah melakukan sharing dengan para pemimpin pesantren di Jawa Barat. Jangan mengajarkan pendidikan radikal," pinta Pangdam III Siliwangi Mayjen Sriyanto saat ditemui di sela sebuah Musyawarah Daerah MUI se Jabar, di Hotel Homann, Jalan Asia Afrika, Bandung, Rabu (16/11/2005). Sriyanto mengaku prihatin dengan munculnya sekelompok masyarakat yang masih sempit memahami ajaran Islam. Bahkan, tidak jarang akibat pemahaman sempit ini memunculkan instabilitas di masyarakat. "Mereka ini mudah diperalat oleh kelompok tertentu baik secara politis atau atas nama agama. Ini perlu dinetralisir," ungkapnya. Menurutnya, hingga kini Jawa Barat masih tergolong aman. Jajaran Kodam III Siliwangi sendiri masih melakukan perburuan dan pengamanan teroris kelompok Dr. Azahari yang di duga berada wilayah Jabar. Beberapa titik wilayah di Jabar yang dijaga ketat ini, antara lain di wilayah pesisiran pantai Jabar seperti di Pelabuhan Ratu dan Pangandaran, Jabar. "Tempat yang kita anggap rawan kita tengok. Tetapi jangan bikin ketakutan pada masyarakat," tambahnya. Untuk mengantisipasi keamanan di masyarakat, Sriyanto mengaku telah memerintahkan patroli Babinsa diintensifkan. Biasanya, patroli dari Babinsa ini hanya 1 x dalam seminggu. Saat ini, patroli dilakukan sebanyak 3 x dalam seminggu.
(ton/)











































