Setara: Kasus Sukmawati Tak Ada Berhubungan dengan Penodaan Agama

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Minggu, 24 Nov 2019 18:36 WIB
Direktur Riset Setara Institute Halili Hasan (Sachril/detikcom)
Jakarta - Setara Institute menilai pernyataan Sukmawati Soekarnoputri yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan presiden ke-1 RI Sukarno bukan penodaan agama. Setara menganggap apa yang disampaikan Sukmawati sebagai bagian dari kebebasan berpendapat.

"Kasus Sukma itu tidak ada hubungannya dengan penodaan agama. Saya tidak menemukan konteks yang utuh yang menjelaskan bahwa pernyataan Sukmawati itu penistaan atau penodaan agama. Saya tidak melihat itu. Artinya, dalam konteks itu biarkan saja statement Ibu Sukmawati itu sebagai bagian dari kebebasan berpendapat," kata Direktur Riset Setara Institute Halili Hasan di Hotel Ibis, Jalan KH Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (24/11/2019).



Halili juga menyarankan Majelis Ulama Indonesia (MUI ) tidak mengeluarkan fatwa terkait pernyataan Sukmawati. Dia menyebut MUI bukan lembaga hukum.

"Saya kira MUI tidak perlu mengeluarkan fatwa apa pun. Jangan mengulangi masalah yang kesekian kali. Fatwa yang sebelumnya, misal soal Ahok, sebuah kesalahan. Kedua, jangan lupa MUI itu bukan lembaga hukum yang produk peraturannya bisa jadi sumber hukum," jelasnya.



Halili melihat ada pihak yang 'memainkan' pernyataan Sukmawati itu. Dia menyebut pihak tersebut juga menjadikannya panggung untuk eksis.

"Yang pertama, mereka berkepentingan dengan permainan isu. Jadi, isu ini penting bagi mereka, sehingga dengan isu ini mereka terus bisa berkontestasi di ruang publik," sebutnya. Halili menjawab pertanyaan soal kekhawatiran adanya gelombang massa yang menuntut kasus Sukmawati diusut seperti yang pernah terjadi pada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Tonton juga Korlabi Desak MUI Keluarkan Fatwa soal Kasus Sukmawati :