Aset First Travel Bisa Diserahkan ke Korban? Mahfud Md: Kami Belum Bahas

Andhika Prasetia - detikNews
Jumat, 22 Nov 2019 19:49 WIB
Bos First Travel, Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari Hasibuan. (Lamhot Aritonang/detikcom)
Bos First Travel, Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari Hasibuan. (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Mahkamah Agung (MA) menyatakan aset First Travel dirampas negara. Pemerintah menjelaskan belum ada pembahasan apakah nanti aset tersebut juga diserahkan kepada korban.

"Ya mungkin saja nanti dibicarakan. Tapi itu belum masuk ke situ kita, belum membahas apakah mau diserahkan ke korban atau tidak," ujar Menko Polhukam Mahfud Md di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (22/11/2019).

"Yang penting itu dulu eksekusi putusan Mahkamah Agung," imbuhnya.


Berdasarkan Putusan Kasasi Nomor 3096 K/Pid.Sus/2018, MA menyatakan aset First Travel dirampas negara. Putusan tersebut diketok oleh ketua majelis Andi Samsan Nganro dengan anggota Eddy Army dan Margono.

Dalam pertimbangannya, alasan MA memutuskan aset First Travel dirampas oleh negara adalah:

1. Bahwa terhadap barang bukti Nomor urut 1 sampai dengan Nomor urut 529, Pemohon Kasasi I/Penuntut Umum sebagaimana memori kasasinya memohon agar barang-barang bukti tersebut dikembalikan kepada para calon jamaah PT First Anugerah Karya Wisata melalui Pengurus Pengelola Asset Korban First Travel berdasarkan Akta Pendirian Nomor 1, tanggal 16 April 2018 yang dibuat di hadapan Notaris Mafruchah Mustikawati, SH, M.Kn, untuk dibagikan secara proporsional dan merata akan tetapi sebagaimana fakta hukum di persidangan ternyata Pengurus Pengelola Asset Korban First Travel menyampaikan surat dan pernyataan penolakan menerima pengembalian barang bukti tersebut

2. Bahwa sebagaimana fakta di persidangan, barang-barang bukti tersebut merupakan hasil kejahatan yang dilakukan oleh para Terdakwa dan disita dari para Terdakwa yang telah terbukti selain melakukan tindak pidana Penipuan juga terbukti melakukan tindak pidana Pencucian Uang. Oleh karenanya berdasarkan ketentuan Pasal 39 KUHP juncto Pasal 46 KUHAP barang-barang bukti tersebut dirampas untuk Negara.


Putusan itu sangat disesalkan korban dan menandakan ada kesalahan konstruksi berpikir MA. Keadilan dipertanyakan.

"Ada kesalahan dalam konstruksi berpikir dalam putusan MA," kata kuasa hukum korban, Luthfi Yazid, saat berbincang dengan detikcom, Senin (18/11).

Tonton juga Aset First Travel Dirampas Negara, Komisi VIII DPR: Aneh dan Janggal :

[Gambas:Video 20detik]

(dkp/idh)