Pemkab Badung Bentuk Tim Penanganan Darurat Sampah

Aditya Mardiastuti - detikNews
Jumat, 22 Nov 2019 08:15 WIB
Ilustrasi Foto: Pembersihan sampah dari pantai di Badung Bali (Dok. DLHK Badung)
Ilustrasi Foto: Pembersihan sampah dari pantai di Badung Bali (Dok. DLHK Badung)
Denpasar - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung Bali membentuk tim untuk mengatasi masalah pembatasan pembuangan sampah ke TPA Suwung. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Badung Putu Eka Merthawan mengakui di wilayahnya sudah darurat sampah.

"Pak bupati sudah memberikan instruksi langsung kepada kami-kami, sekda sebagai ketua tim pengelolaan sampah dalam kondisi darurat ini, bupati sudah membuat surat keputusan bupati Badung tertanggal kemarin 20 November, tentu membuat tim percepatan penanganan untuk darurat sampah ini," kata Mertawan, Jumat (22/11/2019).

Sekda Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menjadi ketua tim ini, Mertawan sebagai wakil ketua tim, dan Kadis PUPR Badung Ida Bagus Surya Suamba sebagai sekretaris. Tim ini juga terdiri dari Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Inspektorat hingga Litbang.


"Sesuai SK Bupati namanya Tim Pengolahan Sampah Kabupaten Badung, kami sebut itu tim percepatan penanganan darurat sampah di kabupaten Badung. Kalau sudah normal tim ini bubar," terang Mertawan.

Dia menambahkan tim ini terdiri dari institusi lintas sektoral sehingga penanganan sampah bisa lebih terpadu. "Kenapa biar nyambung, ada yang ngurus bangunan ada, izin lingkungan ada, ngurus uang ada, jadi terintegrasi. Supaya sinergitas antarperangkat daerah," jelasnya.

Dia pun mengakui pembatasan pembuangan truk sampah ke TPA Suwung dari 225 truk/hari menjadi 15 truk/hari membuat warganya lebih peduli soal pemilahan dan pengolahan sampah mandiri. Malah, ada pengurangan sampah rumah tangga yang harus diangkut DLHK perharinya.


"Ada pengurangan, itu kami sebut fenomena aneh terdapat di Badung, karena masyarakat punya komitmen kepada sampah. Akhirnya apa yang terjadi sampah yang dulu dibawa keluar rumah, sekarang dikurangi dari awal, masyarakat mencacah sendiri sampahnya, bahkan ada bank sampah semakin besar," ujarnya.

Tak hanya itu, sejumlah desa adat juga dengan sukarela memberikan lahannya untuk menjadi tempat penampungan sampah sementara. Dia juga bersyukur masyarakat turut berpartisipasi mengurangi sampah dari rumah.

"Desa adatnya berlomba-lomba menempatkan tempat penampungan sampah sementara dulu. Masyarakat pun sekarang urunan swadaya menangani sampah masing-masing ini bukan perkara mudah, orang lain menganggap remeh, saya selaku praktisi, memberi 4 jempol," pujinya.





Simak juga video Perajin Tahu Masih Pakai Sampah Plastik Untuk Bahan Bakar:

[Gambas:Video 20detik]



(ams/aan)