Bakul 'Perahu Pinisi', Tradisi Unik Maulid Nabi di Maros

Moehammad Bakrie - detikNews
Minggu, 17 Nov 2019 13:01 WIB
Tradisi unik bakul Perahu Pinisi saat Maulid Nabi di Maros. (Moehammad Bakrie/detikcom)
Tradisi unik bakul 'Perahu Pinisi' saat Maulid Nabi di Maros. (Moehammad Bakrie/detikcom)
Maros - Desa Damai, Tanralili, Maros, Sulawesi Selatan, memiliki tradisi unik dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Warga berebut makanan hingga barang yang diletakkan dalam miniatur perahu pinisi.

Pantauan detikcom, Minggu (17/11/2019), ada lebih dari 300 miniatur perahu pinisi yang berjejer. Perahu-perahu tersebut tampak berwarna-warni dan penuh hiasan. Tak hanya itu, berbagai bingkisan khas Maulid, dari telur warna-warni khas Maulid hingga perlengkapan alat rumah tangga lain, diletakkan di dalam perahu yang dijadikan bakul tersebut.


Tradisi unik bakul 'Perahu Pinisi' saat Maulid Nabi di MarosTradisi unik bakul 'Perahu Pinisi' saat Maulid Nabi di Maros. (Moehammad Bakrie/detikcom)

Tradisi ini sudah dilakukan lebih dari 20 tahun. Berebut bakul maulid yang diletakkan di 'perahu pinisi' sudah menjadi pemandangan yang lazim setiap tahunnya. Setiap tahunnya, jumlah perahu pun kian bertambah karena banyak warga yang ikut bersedekah membuat perahu dan hiasannya secara mandiri.

"Kita suku Bugis-Makassar, dikenal sebagai pelaut ulung, di mana perahu Pinisi ini merupakan sebuah identitas budaya yang menjadi lambang warga Sulsel. Makanya modelnya seperti ini," kata salah satu tokoh adat, Ahmad Maulana.



Ahmad menjelaskan, tradisi Maulid dengan menggunakan perahu pinisi ini, sebenarnya berasal dari daerah Cikoang di Kabupaten Takalar. Pemuka adat sekaligus tokoh agama yang berasal dari sana, akhirnya membuat tradisi itu di Maros bersama warga yang tidak lain adalah dari Cikoang.

"Di sini itu bisa dibilang satu keluarga. Asal kami dari Cikoang, tradisi di sana itu, kami bawa ke sini agar tetap dilestarikan oleh anak cucuk kami. Meriahnya juga sama dengan yang di tempat aslinya," ungkapnya.


Dia mengungkapkan, tradisi bakul Maulid menggunakan 'perahu pinisi' ini juga digelar untuk menolak bala. Tak hanya itu, sedekah yang diberikan warga setempat kepada pendatang adalah ungkapan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan kepada Sang Pencipta.

"Sang Pencipta sudah memberikan begitu banyak limpahan rezeki. Nah melalui Maulid ini, kita sedekahkan kepada orang lain. Secara otomatis, sedekah ini juga sebagai penolak bala," kata Ahmad.

Tak hanya warga setempat, perayaan yang digelar tiap tahunnya itu juga dihadiri oleh warga dari berbagai daerah, seperti Makassar dan bahkan dari luar provinsi Sulawesi Selatan. Bagi warga, bakul Maulid Nabi bukan sekadar makanan atau barang, tapi lebih pada keberkahan dari perayaan.

"Sengaja datang tiap tahun untuk memeriahkan tradisi ini. Ini juga sebagai ajang silaturahmi bagi kita yang berada di perantauan. Iya serunya itu saat berebutan," kata salah seorang warga, Marlina. (mae/mae)