BMKG: Gempa M 7,1 Malut Tak Ada Kaitan dengan Gempa Ambon-Bali

BMKG: Gempa M 7,1 Malut Tak Ada Kaitan dengan Gempa Ambon-Bali

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Sabtu, 16 Nov 2019 22:17 WIB
Foto: Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono (Eva-detikcom)
Foto: Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono (Eva-detikcom)
Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi penjelasan soal perbedaan gempa yang terjadi di Maluku Utara, Bali, dan Ambon. Ketiga gempa itu disebut BMKG tak saling berkaitan.

Gempa magnitudo 7,1 di Laut Maluku terjadi pada Kamis (14/11) lalu, di Bali Utara bermagnitudo 5,0 juga terjadi pada Kamis (14/11), sementara, gempa magnitudo 6,5 di Ambon terjadi pada Kamis (26/9). BMKG mengatakan, gempa Maluku dipicu oleh deformasi dalam lempeng laut Maluku.

"Gempa Laut Maluku dipicu oleh deformasi batuan dalam Lempeng Laut Maluku (gempa intraslab), Gempa Bali Utara dibangkitkan oleh sumber gempa struktur Sesar Naik di Utara Bali, dan Gempa Ambon terjadi akibat aktivitas sesar aktif yang belum terpetakan sebelumnya," kata Kepala Bidang Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangannya, Sabtu (16/11/2019).


Selain perbedaan sumber gempa, Daryono menjelaskan ketiga gempa itu juga berbeda dalam mekanisme sumbernya.

"Gempa Laut Maluku memiliki mekanisme sumber sesar naik (thrust fault), Gempa Utara Bali memiliki mekanisme sumber kombinasi pergerakan dalam arah mendatar dan naik (oblique thrust), dan Gempa Ambon memiliki mekanisme sesar geser (strike slip)," ujarnya.

Daryono menjelaskan tak ada kaitan antara ketiga gempa tersebut. Menurutnya, aktivitas gempa bumi di Indonesia tidak disebabkan oleh adanya saling picu.


"Banyak pertanyaan yang ditujukan kepada BMKG apakah ketiga gempa tersebut saling berkaitan dan saling picu? Tentu saja tidak berkaitan, dan gempa tidak menjalar ke sana kemari. Banyaknya aktivitas gempa bumi di Indonesia bukan disebabkan oleh adanya saling picu. Tingginya frekuensi aktivitas gempa bumi disebabkan karena di Indonesia memang banyak terdapat sumber gempa," jelas Daryono.

Daryono mengatakan Indonesia memiliki enam sumber gempa tumbukan lempeng, yang jika dirinci menjadi 13 zona sumber gempa megathrust. Selain itu, Indonesia juga masih memiliki sumber gempa sesar aktif lebih dari 295 segmen.

"Sehingga wajar jika di Indonesia sering terjadi gempa bumi. Setiap sumber gempa memiliki proses akumulasi medan tegangan sendiri-sendiri, mencapai fase 'matang' sendiri-sendiri, dan selanjutnya mengalami rilis energi dalam bentuk gempa bumi sendiri-sendiri. Jadi banyaknya kejadian gempa bukan karena gempa saling menjalar kesana kemari," ungkapnya.


Namun demikian, Daryono menyebut ketiga gempa itu memiliki kesamaan. Daryono mengatakan ketiga gempa itu memiliki kesamaan tipe hingga terjadinya gempa susulan.

"Ketiga gempa tersebut memiliki tipe yang diawali oleh aktivitas gempa pendahuluan (foreshock), selanjutnya terjadi gempa utama (mainshock), dan kemudian diikuti oleh serangkaian gempa susulan (aftershocks). Update hingga Sabtu, 16 November 2019 pukul 18.00 WIB, tercatat Gempa Laut Maluku diikuti sebanyak 185 gempa susulan, Gempa Bali Utara diikuti 100 gempa susulan, dan Gempa Ambon diikuti 2.345 gempa susulan," tutur Daryono.

Karena tingginya aktivitas gempa bumi di Indonesia, Daryono mengimbau agar upaya mitigasi bencana lebih ditingkatkan. Ia juga menyebutkan sejumlah hal yang bisa dilakukan terkait upaya tersebut.

"Mengingat tingginya aktivitas gempa bumi di Indonesia, maka kita harus terus menggalakkan upaya mitigasi bencana, dengan cara membangun bangunan tahan gempa, merencanakan tata ruang pantai yang aman berbasis risiko tsunami, memahami evakuasi mandiri, berlatih evakuasi, dan memahami cara selamat saat terjadi gempa bumi dan tsunami," pungkasnya. (azr/idn)