Sepanjang 2005, 80 Warga Jateng Meninggal karena DBD
Selasa, 15 Nov 2005 15:35 WIB
Semarang - Meski secara statistik kasus DBD di Jateng menurun, tapi penyakit yang dibawa nyamuk ini tetap membahayakan. Sepanjang tahun 2005 ini, 80 orang meninggal karena penyakit tersebut."Pada periode yang sama pada tahun lalu, angka itu sudah sangat menurun. Tahun lalu, angkanya bisa dua tiga kali lipat dari tahun ini," kata Kepala Dinkes Jateng Budihardja di kantornya, Jalan Pierre Tendean Semarang, Selasa (15/11/2005).Pada tahun 2005 ini, terdapat 3.531 kasus yang terlaporkan. Sementara pada tahun lalu, jumlah kasusnya mencapai 9.050 dengan angka kematian sebanyak 163 orang. Artinya, rata-rata angka mati (CFR) tercatat sebanyak 1,8 persen.Budihardja menyebutkan, Kota Semarang menempati ranking pertama dalam hal jumlah kasus DBD. Di ibukota Provinsi Jateng ini, terdapat 1.340 kasus dan 16 orang yang meninggal. "Hampir setengah kasus jumlah DBD di Jateng ada di Semarang," tuturnya.Pada dasarnya, kata Budihardja, 35 daerah di Jateng termasuk endemis DBD. Dari 8.000-an desa, 800 diantaranya termasuk endemis. Meski demikian, DBD lebih banyak berkembang di daerah perkotaan."Ternyata di daerah kota, warga lebih dekat dengan air bersih, banyak genangan. Di kota lebih banyak barang yang tidak hilang seperti botol air mineral atau barang-barang lain. Air kan tempat perkembangan nyamuk paling efektif," jelas Budihardja.Berdasar survei, hingga saat ini air bersih yang digunakan di Jateng hanya 71 persen, rumah sehat 65 persen, dan perilaku hidup sehat 40 persen. Hal itu menunjukkan kondisi kesehatan warga dan lingkungan masih belum benar-benar baik.Untuk itulah, Dinkes Jateng mengadakan acara peringatan Hari Kesehatan Nasional 18 November mendatang dengan agenda pemberantasan sarang nyamuk dan pemeriksaan jentik di kawasan perkantoran dan sekolah-sekolah mulai dari SD sampai SMU."Kami berharap masyarakat bisa berperan serta dalam kegiatan ini. Sehingga penyakit-penyakit berbahaya dapat dicegah. Jadi kita tidak perlu mengobati yang biasanya menghabiskan dana banyak," demikian Budihardja.
(nrl/)











































