Indonesia Kekurangan Tamiflu

Indonesia Kekurangan Tamiflu

- detikNews
Selasa, 15 Nov 2005 12:03 WIB
Jakarta - Persediaan obat flu burung atau Tamiflu yang dimiliki Indonesia masih sangat kurang. Indonesia baru memiliki 750 ribu tablet. Padahal idealnya untuk mengahadapi endemi flu burung, Indonesia harus memiliki 220 juta tablet.Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari kepada wartawan dalam jumpa pers "Hari Kesehatan Nasional", di Departemen Kesehatan (Depkes), Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Selasa (15/11/2005). "Kita perlu 10 persen dari populasi artinya 220 juta tablet untuk 22 juta orang. Jadi jumlah obat Tamiflu yang kita miliki masih kurang. Tapi di dunia juga semua antre untuk obat Tamiflu," kata Menkes. Untuk mengatasi kekurangan Tamiflu itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengadakan stockpiling (cadangan) yang cukup bagi negara-negara yang terkena endemi. Indonesia, kata Menkes, telah melobi WHO agar diizinkan memproduksi Tamiflu sendiri yang bebas dari lisensi Roche. Roche selama ini merupakan pemegang lisensi untuk memproduksi obat flu burung. "Di Jenewa (dalam pertemuan internasional untuk membahas flu burung) kemarin, kita masih dalam proses tawar menawar mengenai hal itu," kata Menkes.Menkes menegaskan, Indonesia tidak akan mengikuti langkah Cina yang memproduksi obat baru untuk flu burung. Pasalnya, obat flu burung yang direkomendasikan WHO selama ini adalah oseltamifir. Terkait dengan tema Hari Kesehatan 2005 yaitu "Gerakan Masyarakat Menuju Indonesia Sehat", Menkes mengaku telah mendapat arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk memberdayakan masyarakat dalam pencegahan flu burung."Teknis kerjanya akan seperti jumantik pada pencegahan DBD yang mendatangi masyarakat dari pintu ke pintu. Mereka (petugas) ini adalah masyarakat yang ditraining dan diberi isentif," jelas Menkes. (iy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads