Berpelukan Erat, Jokowi-Paloh Dinilai Masih Saling Butuh

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 12 Nov 2019 10:11 WIB
Jokowi dan Surya Paloh (Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Kepresidenan)
Jokowi dan Surya Paloh (Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Kepresidenan)

Saat ini, di periode kedua Presiden Jokowi, peran Paloh masih dibutuhkan. Paloh dinilainya mampu menyelamatkan Jokowi dari pandangan buruk akibat kebijakan-kebijakan yang tidak populis, yang barangkali bisa saja harus diambil Jokowi di masa mendatang.

Dalam pidatonya di forum HUT ke-8 NasDem semalam, Jokowi juga mengklarifikasi sorotannya terhadap pelukan erat Paloh-Sohibul Iman sebagai candaan sahabat saja serta tak ada rasa curiga dan sinisme. Istilah 'curiga' dan 'sinis' juga dipakai Paloh saat mengulas kembali isu pelukan erat itu dalam pembukaan Kongres II Partai NasDem, Jumat (8/11) lalu.



Nyarwi menilai gaya Jokowi menggunakan kembali istilah yang digunakan Paloh sebagai 'be fire with fire'. Itu adalah istilah dari William Shakespeare, yang kemudian lebih populer versi modifikasinya menjadi 'fight fire with fire', seperti judul lagu kelompok musik heavy metal dari Amerika Serikat, Metallica.

"Be fire with fire artinya merespons atau membalas suatu strategi tindakan/retorika dengan tindakan/retorika yang (hampir) sama. Statement Presiden Jokowi ini kalau dimaknai agak kritis, seperti mengkritik Surya Paloh dengan cara memuji," kata penyabet gelar doktoral dari Bournemouth University ini.



Hal ini dia sebut sebagai perkembangan bagus untuk politik Indonesia. 'Fire political rhetoric' sudah berkembang di negara-negara maju. Meskipun berada dalam satu koalisi, parpol-parpol di Indonesia mulai menunjukkan otonominya. Ini dinilai sehat untuk demokrasi.

"Tentu yang substansial tidak terdapat pada pelukan-pelukan itu kan. Itu semua simbolik saja," kata Nyarwi.
Halaman

(dnu/gbr)