Kisah Operasi Zebra di Riau, Ditilang Polisi Berujung Dapat Kerjaan

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Minggu, 10 Nov 2019 12:56 WIB
Foto: Pria yang ditilang polisi kini dapat pekerjaan (Haidir-detikcom)
Pekanbaru - Inilah kisah di balik Operasi Zebra 2019 di wilayah Polres Bengkalis. Warga yang ditilang sempat marah ke polisi, belakangan dia kerja menjadi garim di masjid Polres Bengkalis. Simak ceritanya kisah mengharukan dan menggelikan ini.

Operasi Zebra sudah usai pada 4 November 2019 lalu. Dari sekian banyak warga yang kena tilang, ada kisah unik yang dialami Kasat Lantas Polres Bengkalis, AKP Hairul Hidayat.

Anggota Lantas Polres Bengkalis saat itu tengah melakukan operasi di Jl Hangtuah Kota Duri, terpaut sekitar 100 KM dari Pekanbaru iu kota Riau. Banyak kendaraan yang tidak memenuhi syarat administrasi dan kelengkapan berkendaraan yang terjaring dalam operasi tersebut.



Tak luput juga seorang pengendara motor Maruly Saut Aritonang (29) warga Duri yang berboncengan dengan istrinya Netawati Hutahuruk. Pasangan suami istri ini dihentikan petugas karena istrinya tidak mengenakan helm.

Merasa bersalah, Maruly yang belum punya pekerjaan tetap memohon kepada petugas agar kesalahan kecil itu tidak ditilang, cukup dengan teguran. Kasat Lantas yang ada di lokasi menghampirinya. Maruly, memmohon agar kendaraannya jangan ditilang. Dia mengaku dari keluarga yang tak mampu, belum ada kerjaan tetap. Hanya bekerja jaga masjid di kota Duri dengan gaji Rp 400 ribu sebulan.



AKP Hairul sempat ragu atas keterangan itu. Dilihatnya, baju Maruly sangat rapi, sepatu yang dikenakannya mengkilat. Tidak ada tampang orang susah. Keraguan Hairul akhirnya sirna, ketika Rahmat salah satu anggota Polantas membenarkan keterangan Maruly.

"Anggota saya bilang, Maruly memang orang susah. Sebab, anggota saya itu pernah menilangnya sebelumnya. Akhirnya saya percaya, kalau dia orang susah dan lagi mau cari kerja sehingga harus berpakaian rapi dengan sepatu mengkilat," kata Hairul.



Ada niat, Maruly hanya akan dikenakan teguran karena istrinya yang dibonceng tidak memakai helm. Tapi rupanya urusan surat kendaraan sudah mati pajak selama 3 tahun.

Di hadapan polisi, Maruly mengaku bahwa sepatu mengkilat yang dia pakai meminjam dari temannya. Sebab, siang itu dia mau melamar pekerjaan untuk jaga toko bangunan yang dijanjikan gaji Rp 800 ribu per bulannya.



"Dia tetap memohon pada saya agar jangan ditilang. Saya kira kesalahannya pada urusan istrinya tidak pakai helm, tapi rupanya panjak kendaraan motornya sudah 3 tahun juga tak dibayar," kata Hairul.

Walau merasa iba, Hairul tetap tegas kepada warga yang tak taat atas aturan berlalu lintas itu, bahwa proses tilang tetap dilakukan. Anggota Satlantas pun memproses surat tilang untuk Maruly. Warga ini tetap memohon dengan keadaanya yang belum punya kerjaan tetap untuk dibebaskan. Namun tetap ditilang.



Ketika Maruly masih berhadapan dengan petugas Lantas lainnya, Hairul pun berbincang dengan istrinya yang juga bermohon agar kendaraan suaminya tidak ditilang. Apa lagi, istrinya mengaku hamil anak pertamanya usia tiga bulan.

Hairul memang tegas bahwa kesalahan tetap ditindak. Hanya saja kepada istri Maruly dia sampaikan, urusan dana tilang dan bayar pajak kendaraan yang sudah 3 tahun tak dibayarkan, akan menjadi tanggungan pribadinya. Dia meminta, agar usai ditilang menghadap ke Kantor Lantas di Duri. Satu sisi saat razia ini gelar masyarakat ramai menonton.

Mendapat keterangan itu, istri Maruly terharu, dia menangis karena tidak menyangka bila dana tilang dan pajak kendaraan motornya dibayarkan Kasat Lantas.

Namun apa yang terjadi akibat istri si pengendara ini menangis?. Maruly yang lagi menunggu surat tilang melihat gelagat yang aneh terhadap istrinya yang menangis. Dia langsung menghampiri Kasat Lantas dan sempat mendorong bahunya.

Maruly marah, dia merasa urusan tilang menilang jangan melakukan penekanan terhadap istrinya. Maruly tak senang, melihat istrinya menangis yang dianggapnya ulah Kasat Lantas. Sempat terjadi cek cok mulut di tengah kerumunan masyarakat.

Kasat Lantas bingung melihat kondisi yang terjadi. Dia tak mau ada keributan, apa lagi ditonton masyarakat. Niatnya membantu bayarkan dana tilang, dianggap melakukan penekanan ke istri Maruly.

Maruly sempat berucap yang kurang enak didengar. "Kami ini orang susah, kalau mau ditilang ya tilang saja, tapi istri saya jangan bapak buat menangis. Biar Tuhan saja yang akan membalas perbuatan bapak," kata Maruly sebagaimana dituturkan Hairul.

Hairul bingung setengah mati, satu sisi Maruly tetap emosi, dan tak menerima istrinya menangis sesunggukan. Hairul meminta agar Netawati menjelaskan ke suaminya tidak ada unsur penekanan apapun terkait tilang tersebut. Apa lagi warga kian ramai melihat kondisi itu.

"Saya bingung mau menjelaskan bagaimana, karena dia tetap emosi. Menyangka saya berbuat yang aneh-aneh ke istrinya. Saya suruh istrinya untuk menjelaskan. Akhirnya mereka berbicara dengan bahasa Batak, saya juga tidak nengeri. Suaminya agak reda sedikit, tapi tetap kelihat masih marahlah sikitlah," kata Hairul sembari tertawa.



Usai razia, pasangan suami istri akhirnya mendatangi Kantor Satlantas Polres Bengkalis di Duri. Maruly dan Netawati datang menemui Hairul. Di sinilah, akhirnya Maruly sadar, bahwa urusan dana tilang akan menjadi tanggung jawab pribadi Kasat Lantas yang barusan dia marahi.

"Saya bayarkan dana tilangnya, saya titipkan dana pajak motornya yang sudah mati selama 3 tahun. Saya minta Maruly untuk tetap hadir di persidangan. Saya tak mungkin tak menilangnya, karena nanti malah terjadi diskriminasi," kata Hairul.

Mengetahui sudah salah persepsi, Maruly akhirnya meminta maaf atas kejadian itu. Dia tak menyangka, ternyata dana tilang dan pajak kendaraanya ditanggung dana pribadi Kasat Lantas Bengkalis.

Perbincangan di antara mereka pun mencair. Maruly ternyata pandai mengaji. Di sinilah terbetik hati Kasat Lantas menawarkannya menjadi garim masjid di Satlantas di Kota Bengkalis, ibu kota Kabupaten Bengkalis yang posisinya pulau terpisah dari Sumatera. Berketepan juga sudah setahun tak ada garim yang mengurusi masjid.

"Saya tawarkan, pekerjaan jadi garim di masjid kami. Sebab, kita punya dana zakat profesi jajaran Polres Bengkalis dan bisa memberikan gaji Rp 1 juta per bulan untuknya. Karena dia pandai mengaji, saya tawarkan juga untuk jadi guru ngaji di anak-anak TK dan PUAD di Polres. Tapi saat itu dia masih pikir-pikir," kata Hairul.

Rupanya tawaran menjadi garim masjid akhirnya diterima Maruly. Dua hari menjelang operasi zebra berakhir, dia menyatakan minatnya bekerja mengurusi masjid dengan syarat boleh membawa istri.

"Ya sudah kami terima. Saat itu dari Duri saya akan pulang ke Bengkalis, dan mereka ikut bersama. Sekarang Maruly sudah bekerja dengan kami," kata Hairul.

Maruly mulai bekerja terhitung 5 November lalu. Dia diberikan tempat tinggal di salah satu kamar bekas rumah dinas Waka Polres Bengkalis yang dijadikan mess. Di sanalah, Maruly kini tinggal dan bekerja mengurusi kebersihan masjid dan menjadi guru mengaji.



(cha/rvk)