Polisi Belum Bisa Ungkap 'Local Boy' Bom Bali II

Polisi Belum Bisa Ungkap 'Local Boy' Bom Bali II

- detikNews
Senin, 14 Nov 2005 15:25 WIB
Denpasar - Polda Bali curiga ada 'local boy' yang membantu pelaku bom bunuh diri di Kuta dan Jimbaran dalam melancarkan terornya. Namun, hingga kini Polda Bali belum berhasil mengungkap siapa orang tersebut. Keseriusan Polda Bali mengungkap pembantu pelaku bom bunuh diri di tiga kafe di Kuta dan Jimbaran yang disebut 'local boy' berkaca pada bom Bali 2002 di Legian, Kuta yang menewaskan 202 orang. Saat itu, Tim Investigasi Bom Bali 2002 menangkap seorang yang berperan Local Boy bernama Maskur Abdul Kadir. Kecurigaan adanya 'local boy' pada bom 1 Oktober 2005 yang menewaskan 22 orang tersebut karena ada dugaan tiga orang pelaku bom bunuh diri - yaitu Misno, Salik Firdaus, dan satu satu pelaku lagi belum terungkap identitasnya -, belum pernah datang ke Bali. "Bisa saja mereka datang hari itu, kemudian ditunjukkan (target) tapi tetap harus ada menunjukkan itu siapa. Karena kalau kita lihat dari para pelaku itu, mereka kayaknya belum pernah kemari, mereka tidak punya pengalaman," kata Pastika usai menghadiri HUT Brimob di Asrama Brimob, Tohpati, Denpasar, Senin (14/11/2005). Pastika mengatakan, hingga saat ini, pihaknya belum mendapatkan petunjuk soal keberadaan 'local boy' tersebut. "Belum, kita sedang menyelidiki. Pertanyaan saya begitu, kapan mereka ke Bali, bagaimana caranya mereka ke Bali, karena kita sudah kita jaga di mana-mana, bagaimana mereka ke Bali," beber jenderal yang namanya berkibar karena berhasil menangkap dan membongkar jaringan pelaku bom Bali 2002 lalu. Pastika mengingatkan agar masyarakat waspada dengan teror balasan menyusul tewasnya Dr Azahari di Batu, Malang. Menurut dia, Bali tetap menjadi sasaran empuk teror bom dengan alasan 3 aspek. Pertama, aspek psikologis, yaitu karena pada bom Bali 2002, polisi bisa mengungkap 51 kasus bom di Indonesia dan pada bom Bali 2005, Dr Azahari berhasil ditangkap dalam keadaan tewas. Kedua, aspek Strategis, yaitu bila Bali yang dibom otomatis akan menjadi perhatian dunia. Ketiga, aspek taktis yaitu di Bali sangat mudah mencari sasaran orang asing. "Tetap harus kita tingkatkan karena tidak menutup kemungkinan akan ada serangan-serangan lanjut walaupun Dr Azahari mati. Meski sebagian bom telah ditemukan, tapi bisa saja masih ada bom di tempat lain. Kita harus tetap waspada," demikian Pastika. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads