detikNews
Rabu 06 November 2019, 15:50 WIB

Laporan Dari Madinah

Usai dari Masjid Quba, Marbut-Majelis DKI Wisata Sejarah ke Gunung Uhud

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Usai dari Masjid Quba, Marbut-Majelis DKI Wisata Sejarah ke Gunung Uhud Foto: Marbut dan majelis taklim DKI umrah (Kanavino Ahmad Rizqo/detikcom)
Madinah - Setelah mengunjungi Masjid Quba, jemaah umrah marbut dan majelis taklim DKI Jakarta berwisata sejarah ke Gunung Uhud. Jemaah mengenang kisah Perang Uhud yang menyebabkan puluhan kaum muslimin meninggal dalam keadaan syahid.

Bus yang membawa rombongan marbut dan majelis taklim DKI tiba di kawasan Gunung Uhud, Madinah, Rabu (6/11/2019) sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Jemaah langsung mendekat ke pemakaman para syuhada yang meninggal saat Perang Uhud.

Marbut dan majelis taklim DKI ikut mendoakan para sahabat yang mati syahid. Doa dipimpin oleh pembimbing umrah, Ali Wardah.


Ali menjelaskan Perang Uhud merupakan salah satu perang yang memiliki banyak pelajaran bagi kaum muslim. Jumlah pasukan kaum muslim dan kafir Quraisy saat itu berbeda jauh.

"Bisa dibayangkan 1.000 banding 3.000, kemudian di tengah perjalanan, 300 orang dari kaum muslimin berbelok arah. Mereka munafik sehingga jumlah dari para sahabat yang bersama Rasulullah waktu itu sekitar 700 orang. Sekarang perbedaannya luar biasa 700 dibanding 3.000," kata Ali.

Usai dari Masjid Quba, Marbut-Majelis DKI Wisata Sejarah ke Gunung UhudFoto: Marbut dan majelis taklim DKI umrah (Kanavino Ahmad Rizqo/detikcom)

Ali menjelaskan Baginda Rasulullah SAW kemudian mengatur strategi untuk memenangkan Perang Uhud. Rasul menempatkan sejumlah pemanah di Bukit Rumat.

"Rasulullah berpesan jangan turun, jangan meninggalkan bukit ini dalam keadaan apapun, kalah atau menang sebelum ada aba-aba, jangan turun dari bukit," kata Ali.


Kemudian terjadilah peperangan antara kaum muslimin dan kauf kafir Quraisy. Karena menempatkan pemanah di Bukit Rumat, kaum muslimin menguasai medan perang. Banyak kaum kafir yang tewas dalam peperangan itu.

"Dan orang-orang kafir ini melarikan diri serta mereka meninggalkan hartanya supaya memudahkan untuk berlari," ujar dia.

Usai dari Masjid Quba, Marbut-Majelis DKI Wisata Sejarah ke Gunung UhudFoto: Marbut dan majelis taklim DKI umrah (Kanavino Ahmad Rizqo/detikcom)

Namun para pemanah ini tak mengindahkan perintah Rasul untuk tak meninggalkan Bukit Rumat. Mereka mengambil harta yang ditinggalkan kaum kafir Quraisy.

"Mereka turun dari bukti dan mengambil harta-harta tersebut. Kemudian melintaslah Khalid bin Walid. Di mana Khalid bin Walid itu masih dalam keadaan kafir. Dan Khalid bin Walid memimpin orang-orang kafir Quraisy. Sehingga Khalid bin Walid ini mengarahkan pasukannya untuk menggantikan tempatnya kaum muslimin yang ditinggalkan. Pasukan Khalid bin Walid menempati bukit pemanah, Bukit Rumad. Sedangkan kaum muslimin sudah turun di antara Bukit Uhud," ujarnya.


Posisi tersebut menyebabkan kaum muslim yang awalnya menang berbalik kalah. Medan tempur dikuasai kafir Quraisy. Puluhan kaum muslim mati syahid dalam peperangan itu.

Ali menjelaskan ada pesan penting dalam kisah Perang Uhud ini. Menurut Ali, Allah mengingatkan kaum muslim untuk tidak mencintai dunia melebihi akhirat.

"Mengenai Perang Uhud ini. Allah SWT mentarbiyah para sahabat karena mereka meninggalkan sabda Rasulullah serta mereka tidak mendengarkan apa yang diperintahkan Rasulullah. Maka Allah uji dengan kelelahan. Allah uji dengan kekalahan merupakan tarbiyah atau pendidikan dari Allah SWT," ujarnya.
(knv/gbr)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com