detikNews
Selasa 05 November 2019, 18:40 WIB

Kisah Anak-anak TKI, Terpisah dari Keluarga demi Sekolah

Uji Sukma Medianti - detikNews
Kisah Anak-anak TKI, Terpisah dari Keluarga demi Sekolah Foto: 20Detik
Nunukan - Meski berada jauh di ujung utara Kalimantan, namun semua anak-anak Indonesia punya hak mendapatkan pendidikan yang sama. Tak terkecuali anak-anak TKI yang orang tuanya mencari nafkah ke negara tetangga.

SMK Negeri 1 Nunukan adalah salah satu sekolah yang menyediakan asrama bagi para putra-putri bangsa yang ditinggal orang tuanya bekerja di Malaysia.

Kepala SMKN 1 Nunukan Mahfuz menjelaskan anak-anak tersebut tidak bisa ikut orang tua mereka dan bersekolah di Malaysia karena terdapat aturan repatriasi dari Pemerintah Malaysia.

"Ada peraturan menteri (pemerintah Malaysia) soal repatriasi, anak-anak TKI yang sudah sekolah di Malaysia mereka tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya kecuali balik ke Indonesia," kata Mahfuz saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.


Untuk itu lah pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan sejumlah terobosan. Salah satunya dengan membangun asrama khusus untuk anak-anak TKI yang orang tuanya bekerja di Malaysia.

Pada 2018 lalu, jumlah siswa yang tinggal di asrama seluruhnya ada 82 siswa. Tahun ini berkurang menjadi 70 siswa. Asrama bagi para anak-anak TKI sudah dibangun sejak 2012.

Mereka tinggal dan sekolah tanpa dipungut biaya. Syarat untuk dapat tinggal di asrama ini juga tidak sulit. Kata Mahfuz cukup menggunakan Kartu Keluarga (KK) dan juga akta kelahiran.

"Sama saja dengan sekolah reguler di Indonesia," ungkapnya.

Adapun, mereka juga berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa Bidik Misi sesuai dengan kemauan jika memenuhi kualifikasi. Salah seorang siswa asrama bernama Shahrizan yang berasal dari Kupang NTT menuturkan orang tuanya bekerja di Tawau Malaysia. Ia tak bisa melanjutkan sekolah menengah atas di Tawau lantaran tidak memiliki identity card (Kartu kewarganegaraan Malaysia).

Ia yang lahir dan dibesarkan di Malaysia memang sempat mengenyam pendidikan SD dan SMP di Tawau. Namun, karena terbentur masalah kewarganegaraan ia mengaku tidak bisa mendapatkan ijazah. "Pernah juga sekolah di Malaysia tetapi saya berhenti (tidak melanjutkan) karena tidak bisa dapat ijazah," jelasnya.

Selanjutnya, Shahrizan mengambil sekolah paket setara SMP di Nunukan. Setelah lulus ujian paket, ia lalu mendaftar ke SMKN 1 Nunukan via online. Shahrizan pun mengambil jurusan pertanian. Alasannya karena sering ikut orang tua bertani saat tinggal di Malaysia.


"Di Kalimantan Utara, terutama di Kabupaten Nunukan masih banyak lahan-lahan yang kosong, jadi sekolah pertanian ini sekarang sudah maju kak," ujarnya.

Awalnya, kata Shahrizan ia mengaku canggung saat pertama kali tinggal di asrama. Namun, seiring berjalannya waktu ia merasa senang dan nyaman bisa berbaur dengan anak-anak lain dari beragam macam suku dan etnis di Indonesia. "Saya sendiri kan orang timur kak, di sini juga ada yang dari Jawa, dari Sulawesi kita semua berbaur kak," jelasnya.

Ia pun berencana untuk mendaftar beasiswa bidik misi ke Institut Pertanian Bogor (IPB). Terlebih, Shahrizan menyebut anak-anak yang tinggal di asrama bisa mendapatkan prioritas beasiswa sehingga ia semakin bersemangat untuk meraihnya.

"Kalau anak asrama kan ada khusus beasiswa anak TKI untuk kuliahnya sehingga di situ ada peluang besar," tuturnya.

Dia merasa sangat berterima kasih dapat bersekolah dengan fasilitas yang memadai. Meski harus tinggal di perbatasan dan terpisah dari orang tua, ia ingin membuktikan kalau ia juga bisa meraih cita-cita yang ia inginkan.

[Gambas:Video 20detik]


(ujm/mul)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com