Keluarga Misno & Salik Tertekan dengan Label Teroris
Sabtu, 12 Nov 2005 22:37 WIB
Bandung - Label teroris membuat keluarga pelaku bom bali II merasa tertekan. Padahal, pihak keluarga sudah merasa menderita dengan kepergian anaknya yang ikut tewas dalam ledakan bom itu."Tindakan anaknya itu (bom bunuh diri) memang tidak baik," ujar kuasa hukum keluarga Misno dan Salik, Emi Klanawijaya dalam jumpa pers di Hotel Endah Parahyangan, Ruang Pungkur, Jalan Cibereum, Bandung, Sabtu (12/11/2005).Keluarga yang hadir dalam jumpa pers itu hanya dari pihak Misno, yaitu Mad Sukarto, 58 tahun, Musbariyah, 55 tahun dan kakak kandungnya, Parisno. Misno merupakan pelaku peledakan di Resto cafe Menega, Bali 1 oktober lalu. Sedangkan keluarga Salik (pelaku bom bunuh diri di Nyoman Cafe), tidak ada satu pun yang hadir dalam jumpa pers tersebut. Sebab, keluarga Salik merasa tertekan dengan positifnya Salik sebagai pelaku bom Bali II. Menurut Emi, saat ini semua keluarga pelaku Bom Bali II merasa terpukul dengan adanya kasus ini. Mereka masih belum menerima, bahwa anaknya memang terbukti terlibat dalam bom buhuh diri di Bali. "Kami ingin menyatakan ada sesuatu yang salah di masyarakat. Ada anggapan mereka ini ditangkap. Padahal, setelah melihat foto yang disebar polisi, mereka datang pada saya dan langsung melapor ke polisi. Kami meminta perlindungan hukum dan keamanan pada Polri," ungkap Emi.Pada saat itu, lanjut Emi, keluarga pelaku mengaku, ada ciri-ciri kemiripan dengan foto pelaku yang disebarkan polisi. Emi pun langsung melaporkan ke polisi pada tanggal 8 November 2005. Para keluarga juga langsung berangkat ke Bandung. Polisi kemudian memperlihatkan foto-foto pelaku dari Bom Bali II tersebut kepada keluarga.
(ism/)











































