Korban Pengeroyokan Tewas Akibat Kekerasan Tumpul

Korban Pengeroyokan Tewas Akibat Kekerasan Tumpul

- detikNews
Sabtu, 12 Nov 2005 12:45 WIB
Jakarta - Penyebab tewasnya Bagus Hariyanto alias Black (55) akhirnya terkuak. Dari hasil autopsi jenazah warga Berlan yang menjadi korban penganiayaan beberapa oknum TNI AD itu, menunjukkan korban tewas akibat adanya kekerasan tumpul dan trauma."Ada kekerasan tumpul di bagian tubuh korban terutama kepala, dada dan lengan," kata ketua tim forensik dr Munim Idris di TPU Menteng Pulo, Tebet Jakarta Selatan, Sabtu (12/11/2005).Namun sayangnya, Munim tidak bersedia menyebutkan luka tersebut disebabkan oleh benda apa. "Kita tidak bicara benda tapi kekerasan tumpul. Kita juga tidak menyebutkan bendanya," jelasnya. Munim pun membantah ketika ditanyakan bahwa korban sebelum tewas sedang mengalami overdosis "Tidak ditemukan adanya overdosis," ungkapnya.Hal ini berbeda dengan keterangan Kepala Penerangan Kodam Jaya (Kapendam Jaya) Letkol Apang Sopandi, bahwa korban tewas karena overdosis.Autopsi dilakukan di lokasi TPU sekitar pukul 10.00 hingga 11.30 WIB yang dilakukan oleh tim forensik FK-UI. Autopsi dipimpin dr Munim Idris, Kapendam Jaya Letkol Apang Sopandi dan para penyidik dari Pomdam Jaya. Terdapat juga keluarga korban dan puluhan warga Berlan menyaksikan proses autopsi tersebut.Proses autopsi juga dijaga ketat oleh aparat Pomdam Jaya sehingga prosesnya berjalan lancar. Menurut keterangan dr Munim, hasil forensik ini akan dilaporkan kepada pihak penyidik dan keluarga.Sementara itu, salah satu adik korban, Ratnasari (46), menuturkan pihak keluarga sebenarnya tidak menginginkan adanya autopsi. Namun karena desakan dari warga di lingkungan sekitar, terutama dari Ikatan Remaja Kesatriaan Berlan, di mana korban juga menjadi pengurus, akhirnya autopsi dilakukan.Menurut Ratna, ia pada tanggal 15 Oktober lalu sempat diberitahu oleh teman-teman korban bahwa korban dibawa ke markas Denhar TNI AD di Berlan karena kakaknya tersebut dituduh mencuri sepeda Ontel milik anggota TNI bernama Eko. Menurut salah satu teman Eko, ketika korban kedapatan membawa sepeda, korban langsung didatangi sejumlah oknum TNI dan menyeretnya ke markas Denhar TNI AD di Berlan.Pada saat itu, Ratna sendiri mengaku sempat melihat kakaknya berada di markas TNI, namun kondisinya saat itu sedang digantung di tiang bendera tanpa menggunakan baju dan hanya menggunakan celana dalam."Karena saya sendirian saya tidak berani lalu pulang untuk memanggil teman-teman untuk kembali lagi," cerita Ratna.Saat itu pihak keluarga meminta agar korban dibebaskan. Namun pihak TNI AD meminta uang pengganti seharga sepeda Ontel yang dipakai korban sebesar Rp 400 ribu. Setelah dibayar oleh keluarga, Bagus langsung dibebaskan tetapi kondisinya sudah tidak sadarkan diri dan mengalami memar pada wajah. Sehari setelah pembebasan Bagus, tepatnya pada tanggal 17 Oktober pagi, Bagus akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. (ahm/)


Berita Terkait