Jadi Anggota Pemuda Pancasila, Jokowi Diyakini Buat Gebrakan Baru

Adinda Purnama Rachmani - detikNews
Kamis, 31 Okt 2019 22:16 WIB
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo (Bamsoet) senang karena Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin yang telah resmi menjadi anggota kehormatan Pemuda Pancasila. Penyerahan kartu anggota yang diberikan kepada kedua pemimpin negara, pada saat rangkaian musyawarah besar (Mubes) Pemuda Pancasila X pada 26-28 Oktober 2019.

"Pemuda Pancasila merasa terhormat atas kesediaan Presiden Joko Widodo membuka Mubes Pemuda Pancasila X pada 26 Oktober 2019. Untuk Wakil Presiden Ma'ruf Amin menutup Mubes pada 28 Oktober 2019. Kehadiran dua tokoh besar bangsa ini dalam keluarga besar Pemuda Pancasila akan membuat gebrakan baru, dalam menjaga dan membumikan nilai-nilai pancasila ke hati sanubari rakyat, khususnya kepada diri setiap kader sendiri," ucap Bamsoet, dalam keterangannya, Kamis, (31/10/2019).

Bamsoet menjelaskan, sejak didirikan pada 28 Oktober 1959 atas inisiasi Jendral Besar AH Nasution, Pemuda Pancasila, yang kini berusia 60 tahun, telah memainkan banyak peranan penting dalam menjaga, menyebarkan, dan menanamkan nilai Pancasila.

Maka dari itu, setiap kader dituntut menjadi patriot yang harus menampilkan wajah Pancasila, bukan menampilkan wajah premanisme ataupun nilai yang tidak sesuai dengan ajaran Pancasila.

"Keberadaan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin dalam keluarga besar Pemuda Pancasila meneguhkan bahwa antara nilai-nilai nasionalis dan nilai agamis bisa berbaur dalam rumah besar Pancasila. Sebab, nilai Pancasila sesungguhnya tidak pernah bertentangan dengan nilai nasionalisme dan nilai agama," ucap Bamsoet.

Selain itu, pada sila pertama Pancasila menegaskan akan nilai ketuhanan, baru kemudian kemanusiaan dan selanjutnya persatuan. Artinya, siapa pun yang menentangkan Pancasila dengan nilai ajaran agama maupun sebaliknya, menunjukkan ketidakpahaman terhadap pancasila itu sendiri.

"Para founding fathers kita sejak awal mempersiapkan kemerdekaan menyadari bahwa kemajemukan bangsa Indonesia merupakan rahmat Tuhan yang perlu disyukuri. Bukan justru menjadi pemecah belah rakyat dalam mengisi kemerdekaan, ditunjang dengan sistem demokrasi yang kini kita anut, menjadikan Pancasila yang sangat relevan. Bukan untuk memaksakan persatuan, melainkan untuk mengelola keberagaman menjadi kekuatan," tutupnya.



(mul/mpr)