detikNews
2019/10/31 16:57:36 WIB

Caleg asal Sulsel Protes Cuma Terima Salinan Pemecatan dari Gerindra

Yulida Medistiara - detikNews
Halaman 1 dari 2
Caleg asal Sulsel Protes Cuma Terima Salinan Pemecatan dari Gerindra Foto: Misriyani Ilyas (Yulida/detikcom)
Jakarta - Mantan caleg Partai Gerindra, Misriyani Ilyas, keberatan dengan surat pemecatan dari DPP Partai Gerindra yang diterima sehari sebelum dilantik. Ia merasa tidak tahu alasannya dipecat, apalagi surat yang diterima hanya berupa salinan atau fotokopi.

"Ya tanggal 23 (surat diterima). Itu juga saya dapat kabarnya dari DPD. Saya terimanya nggak resmi karena di DPD juga fotokopian saja yang tiba. Dari fotokopian itu baru saya tahu kenapa ada begini," ujar Misriyani, di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis (31/10/2019).




Dalam petitumnya, Misriyani meminta agar hakim membatalkan surat Keputusan DPP Partai Gerindra nomor 005D/SKBHA/DPPGerindra/IX/2019 tentang pemberhentian keanggotaan sebagai langkah administrasi pelaksanaan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan nomor 520/Pdt.Sus.Parpol/2019/PN.Jkt.Sel tanggal 26 Agustus 2019.

Sementara itu, pengacara Misriyani, Muhammad Burhanuddin juga mempertanyakan surat salinan pemecatan yang diterima kliennya. Ia mengatakan akan meminta surat asli pemecatan itu pada sidang selanjutnya.

"Nah ini sampai sekarang aslinya belum ada itu, belum diterima, makanya nanti kita akan minta di sidang juga, kok ini sudah dipecat tapi aslinya nggak ada. Begitu principal kami datang ke DPP katanya nggak bisa lagi dilayani karena sudah dipecat. Ini kan ngomong apaan ini model-model begini," kata Burhanuddin.

Burhanuddin mengatakan, Misriyani pernah mendatangi DPP Gerindra untuk meminta surat asli pemecatannya. Namun, kliennya tidak mendapatkan informasi apa-apa terkait surat pemecatan itu.




Ia khawatir imbas dari putusan PN Jaksel yang dimenangkan Mulan Jameela dkk itu akan ditiru oleh caleg lain dari parpol lainnya. Padahal, suara kliennya lebih tinggi daripada suara Partai Gerindra maupun suara lawannya.

"Karena ini berbahaya bagi kelangsungan demokrasi ke depannya. Kalau ini jadi sample partai lain, semua partai nurutin, nggak ada orang mau jadi caleg, ngapain, kalau ujung-ujungnya yang dekat sama parpol aja yang dipilih," kata Burhanuddin.

"Padahal kan seharusnya suara terbanyak yang terpilih. Bu Misriyani itu 10.507 suara, Adam 9.599 suara. Bu Misriyani paling tinggi di sana, sementara Partai Gerindra hanya 7.711 suara. Sementara klaimnya di gugatan nomor 520 selalu mengatakan suara partai terbanyak, disamaratakan," imbuhnya.



Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com