'Paradise Now' Angkat Sisi Kemanusiaan Pengebom Bunuh Diri

'Paradise Now' Angkat Sisi Kemanusiaan Pengebom Bunuh Diri

- detikNews
Jumat, 11 Nov 2005 17:30 WIB
Jakarta - Film "Paradise Now" yang sedang hangat dibicarakan di AS, mencoba menelusuri motif para pelaku bom bunuh diri. Karena tema yang tidak biasa inilah, film ini mengundang reaksi beragam. Bahkan kemungkinan film ini terancam tidak akan lulus sensor di Indonesia.Penggarap film independen ini, Hany Abu As-saad asal Palestina, mengakui bahwa film ini akan memancing kemarahan sebagian orang karena telah memberikan sisi kemanusiaan pada pelaku bom bunuh diri.Di satu sisi, Hany berusaha memahami pikiran, perasaan dan tindakan pelaku bom. Namun di sisi lain, Hany juga mengkritik tindakan teroris tersebut. Demikian seperti diberitakan The Age, Jumat (11/11/2005)."Paradise Now" menceritakan dua pemuda Palestina yang berteman sejak kecil, yang telah direkrut untuk melakukan bom bunuh diri di Tel Aviv, Israel. Film ini difokuskan pada hari-hari terakhir mereka.Ide film yang meraih penghargaan di Festival Film Berlin 2005 ini berasal dari banyaknya berita di koran-koran mengenai serangan bunuh diri."Itu tindakan sangat ekstrem sehingga saya mulai berpikir, seperti halnya orang lain, bagaimana seseorang bisa melakukannya, apa yang mendorong mereka melakukannya?" ujar sang sutradara, Hany.Hany mengatakan banyak kesulitan yang ditemui selama proses pembuatan film yang berlokasi di Nablus, jantung konflik Palestina dan Israel serta di Nazareth dan Tel Aviv. Kerap kali syuting terpaksa dihentikan karena terdengar suara tembakan. Bahkan di Nablus, rudal-rudal Israel berseliweran hampir setiap hari.Sebuah kelompok bersenjata Palestina juga pernah mendatangi lokasi syuting di Nablus dan meminta kru film untuk menghentikan pembuatan film. Alasannya, film ini dianggap tidak membela perjuangan para pengebom bunuh diri."Sebagian warga Palestina menganggap film yang kami buat menentang rakyat Palestina. Namun sebagian warga Palestina mendukung film ini karena mereka menilai kami membela kebebasan dan demokrasi," tutur Hany.Akankah film ini dilarang diputar di Indonesia? Kita lihat saja. (ita/)


Berita Terkait