'Paradise Now' Terancam Terblokir Masuk Indonesia?
Jumat, 11 Nov 2005 16:03 WIB
Jakarta -
Film 'Paradise Now' yang berkisah tentang perekrutan pelaku bom bunuh diri sedang hangat jadi pembicaraan di AS. Dinilai bisa memberi inspirasi, kemungkinan film ini terancam tidak akan lulus sensor di Indonesia.Film garapan Hany Abu As-saad, pembuat film asal Palestina, itu cukup 'dekat' hubungannya dengan bom bunuh diri yang sekarang tengah ramai di Indonesia. Apalagi beberapa hari lalu Dr Azahari, perekrut anggota baru bom bunuh diri di Indonesia, mati karena bomnya sendiri.Ada kekhawatiran, film independen tersebut akan memberi pengaruh makin suburnya perekrutan benih-benih baru teroris di Indonesia. Karenanya, hingga saat ini belum ada kabar apakah film tersebut akan diputar di bioskop-bioskop di Indonesia.Menurut sumber detikcom di Camila, distributor film asing di Indonesia, hingga Maret 2006 belum ada jadwal film tersebut akan masuk ke Indonesia. Namun, hal tersebut bukan suatu yang pasti. Film ini belum lama diputar di bioskop-bioskop di Amerika. "Biasanya, jika di Amerika sudah diputar semingguan, kita bisa langsung memutarnya di Indonesia. Hanya saja, itu semua tergantung badan sensor," terang sumber tersebut ketika dihubungi detikcom, Jumat (11/11/2005).Sementara itu, Irene, warga Jakarta yang mengaku sudah melihat film itu menilai film itu seharusnya tidak perlu dilarang masuk ke Indonesia. Menurut dia, film yang berkisah tentang kehidupan dua anak muda yang direkrut oleh organisasi rahasia di Palestina tersebut tidak bermasalah. Maksudnya, ceritanya tidak sensitif. Film ini sempat menjadi bahan diskusi di Amerika beberapa waktu lalu. Dalam acara diskusi itu, Hany, sang sutradara diberi ancungan jempol soal keberaniannya mengangkat kisah kemanusiaan di film tersebut. Tapi, Hany membantah anggapan bahwa filmnya mengangkat kemanusiaan. Dia sebenarnya hanya ingin menggambarkan keruwetan soal bom bunuh diri yang sering melibatkan orang Palestina dan Israel.Untuk pembuatan film tersebut, sutradara yang telah membuat beberapa film tersebut mengalami kesulitan. Kota yang dijadikan lokasi syuting, Nablus, menjadi incaran tentara Israel untuk mencari militan Palestina. Sehingga, untuk mencari aman, kru film harus berhubungan baik dengan tentara Israel, maupun warga Palestina. Hal yang sulit, mengingat kedua kubu saling membenci.
(ana/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































