Disdik: Siswa Gonzaga Tak Naik Kelas karena Merokok dan Makan Kuaci di Kelas

Matius Alfons - detikNews
Rabu, 30 Okt 2019 15:35 WIB
Foto: SMA Gonzaga
Jakarta - Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi DKI Jakarta mengatakan ada beberapa alasan SMA Kolese Gonzaga tidak menaikkan kelas seorang siswa. Belakangan, orang tua menggugat sekolah ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).

Murid itu disebut tidak naik kelas bukan hanya karena masalah nilai, melainkan pernah merokok dan makan kuaci di dalam kelas. Murid itu kini memilih keluar dan tidak melanjutkan sekolah di Gonzaga.

"Begini, Mas.... Kan si siswa ini satu mata pelajaran nggak tuntas, yaitu sejarah. Peminatan nilainya 68. KKM-nya 75. Nah kemudian ternyata jauh sebelumnya memang laporannya ada kasus saat live in program Khatolik di Cilacap, dia kena tegur lah. Antara merokok atau apa gitu. Akhirnya ditegur dan dipulangkan kalau nggak salah," kata Kepala Seksi Peserta Didik dan Pengembangan Karakter Peserta Didik Disdik DKI Jakarta Taga Radja Gah saat dihubungi, Rabu (30/10/2019).


Taga juga mengatakan murid tersebut juga sempat kedapatan makan kuaci di dalam kelas. Saat itu, menurut Taga, murid tersebut ditegur oleh guru Sejarah.

"Setelah itu ada kejadian dia makan kuaci dalam kelas, ditegur guru sejarah itu. Nah itulah rangkaian cerita itulah yang disampaikan ke saya yang seakan-akan, barangkali maaf, dikonfirmasi lagi ke ortu bahwa seakan-akan gurunya nggak suka sama anaknya," ucap Taga.

Taga juga menyebut alasan tidak tuntas nilai KKM salah satu mata pelajaran murid tersebut juga menjadi faktor sekolah tidak menaikkan kelas.

"Lalu sampailah pada angka nilai yang tidak tuntas itu. Hanya 1 itu, akhirnya diputuskan tidak naik," ujarnya.

Menurut Permendikbud No 53 Tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidik pada Dikdasmen, murid tersebut tidak bisa tidak dinaikkan kelas kalau tidak tuntas KKM. Namun terkait dua perilaku lainnya bisa diputuskan oleh Dewan Pendidikan.

"Jadi memang begini. Ada Peraturan Menteri Nomor 53 tahun 2015 tentang standar penilaian. Pada pasal 10 dijelaskan betul bahwa jika terdapat paling sedikit 3 mata pelajaran tidak tuntas, maka anak tersebut dinyatakan tidak naik. Itu kan paling sedikit 3, 3 mata pelajaran. Kalau dua naik. Apalagi satu gitu," paparnya.

"Namun ada di standar proses itu bahwa rapat dewan pendidik itu adalah forum tertinggi memutuskan segala sesuatunya. Rapat dewan pendidik ya. Salah satunya adalah naik atau tidak naiknya siswa atau lulus tidak lulusnya siswa. Jadi, di Gonzaga itu rapat dewan pendidik sudah memutuskan. Jadi artinya yg kedua peraturan ini kan sudah berlaku (soal merokok dan makan di kelas)," sambungnya.


Sebelumnya, diberitakan orang tua murid menggugat SMA Gonzaga, Jakarta Selatan, karena anaknya tidak naik kelas. Ibu siswa, Yustina, menggugat guru, kepala sekolah, hingga Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Berdasarkan informasi perkara yang dipublikasi Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (SIPP PN Jaksel), perkara itu mengantongi nomor 833/Pdt.G/2019/PN JKT.SEL. Yustina menggugat Kepala SMA Kolese Gonzaga, Pater Paulus Andri Astanto. Selain itu, ikut digugat Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Himawan Santanu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Gerardus Hadian Panomokta, dan guru sosiologi kelas XI Agus Dewa Irianto. Yustina juga menggugat Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Provinsi DKI Jakarta.

Hingga berita ini diturunkan, detikcom sudah mendatangi SMA Gonzaga di Pejaten Barat sejak pagi untuk meminta konfirmasi. Namun pihak sekolah hingga kini belum memberikan penyataan. (maa/asp)