Menengok Kampung Halaman Pahlawan Revolusi Karel Sadsuitubun

Mustiana Lestari - detikNews
Selasa, 29 Okt 2019 18:02 WIB
Foto: Mustiana Lestari
Foto: Mustiana Lestari
Maluku Tenggara -

Tidak seperti pahlawan revolusi lainnya, Karel Sadsuitubun bukanlah Jenderal TNI melainkan hanya seorang pengawal J Leimena yang berpangkat Agen Polisi Kelas Dua. Namun keberaniannya jangan diragukan. Dia rela pasang badan menghalau datangnya pasukan Gerakan 30 September. Hingga akhirnya timah panas menembus dada pria yang masih berusia 37 tahun ini.

Detikcom berkesempatan melihat jejak Karel Sadsuitubun di tempat kelahirannya, Desa Rumadian, Kecamatan Manyeuw, Maluku Tenggara. Sampai di sana, nama Karel Sadsuittubun sudah terpampang sebagai nama bandara kabupaten tersebut.

Perlu sekitar setengah jam untuk mencapai Desa Rumadian dengan mobil sewaan. Sampai di Desa Rumadian pemandangan asri sudah demikian terasa dan di pintu masuk pun patung sang pahlawan revolusi terlihat nyata.

Sembari menunjuk lahan kosong bekas pondasi rumah, Manajer Pariwisata Desa Rumadian Onggo Watratan mengatakan bahwa di tempat tersebut Karel dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya. Tak jauh dari situ pula, ada kediaman saudara Karel Sadsuitubun, salah satunya adalah keturunannya yang juga bernama sama, Karel Sadsuitubun.

"Nama saya dipakai ke anak cucu supaya namanya tidak hilang dan mengenang kembali," kata Karel yang merupakan cucu dalam keluarga adat kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Karel pun hafal benar karier politik kakeknya yang moncer. Dari Ambon sampai Jakarta hingga akhirnya gugur karena peluru pasukan Gerakan 30 September.

"Beliau berasal dari keluarga petani dan punya cita-cita menjadi polisi. Karena cita-citanya kuat, beliau ke Ambon untuk tes polisi, di sana diterima jadi polisi ditugaskan di Dobo. Karena kariernya bagus dipindahkan ke Sulawesi karena ada pembebasan Irian Barat dia ditarik lagi ke Dobo. Setelah di Dobo pangkat naik dan dipindahkan ke Ambon dan setelah itu dipindahkan ke Jakarta, dan ditugaskan untuk menjaga kediaman JW Leimena," terang dia panjang lebar.

Menengok Kampung Halaman Pahlawan Revolusi Karel SadsuitubunFoto: Mustiana Lestari

Dia menganggap gugur kakeknya akibat perlawanan yang tak seimbang. Saat itu Karel terbangun karena ada segerombolan yang menembak Karel yang hendak jaga pagi.

"Saat perlawanan dia kena timah panas di dadanya dari situ jatuh dan gugur," terang dia.

Meski telah tiada, Karel mengenang sang kakek sebagai pribadi yang sederhana, taat beragama serta sosok pengabdi negara. "Pesan dari dia sendiri kami sebagai anak-anak harus contoh opa kami harus jaga nama baik dan harumkan bangsa ini," tegas dia.

Besar harapan Karel junior ini agar sang kakek dikenal dengan lebih layak di kampung halamannya, Desa Rumadian.

"Kalau harapan anak cucu tidak minta banyak. Kami ingin pemerintah memperhatikan monumen Karel Sadsuitubun pengabdiannya untuk negara yang besar ini. Namanya sudah jadi nama KRI dan rumah sakit," tegas dia.

Dia pun kembali menegaskan bahwa nama yang benar adalah Karel Sadsuitubun bukan KS Tubun atau Karel Satsuitubun.

Di lain pihak, Kepala Desa Rumadian Hans Watratan mengaku menggunakan dana desa berencana membangun patung, museum untuk mengenang jasa Karel Sadsuitubun.

"Kita rencanakan ke depan kita koordinasikan dengan pihak terkait," tukas dia.

Di Desa Rumadian yang juga dikenal sebagai desa pahlawan ini juga terdapat beberapa atraksi lainnya, seperti kolam renang super besar di tepi teluk, wisata hutan mangrove, dan atraksi ekowisata lainnya. Untuk mengetahui informasi lainnya dari Kemendes PDTT klik di sini.



(mul/ega)