Masyarakat Terpencil di Sumsel Kesulitan Minyak Tanah
Kamis, 10 Nov 2005 22:07 WIB
Palembang - Meskipun harganya mahal, ratusan ribu masyarakat di Sumatera Selatan yang berada di pinggiran atau daerah terpencil kesulitan mendapatkan minyak tanah.Misalnya di kawasan nelayan dan petani ladang pasang surut Sungsang, Banyuasin, Sumatera Selatan."Di sana minyak tanah dijual Rp 5.000 per liter, tapi setiap keluarga yang mau mendapatkan minyak tanah harus berperahu berjam-jam dari pedalaman untuk mendapatkan sebotol minyak tanah," kata Dian Maulina, seorang pendamping masyarakat dalam program Kebakaran Hutan Uni Eropa dan Pemerintah Sumatera Selatan, Kamis (10/11/2005)."Akibat sulitnya mendapatkan minyak tanah masyrakat kembali menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Ya, hutan kembali ditebangi buat kebutuhan bahan bakar buat masak dan penerangan," kata Dian. Harga eceran tertinggi (HET) minyak tanah di Sungsang Rp 3.500 per liter. Masyarakat di kawasan trasmigrasi Desa SP 2, Kecamatan Nibung, Musirwas, Sumatra Selatan, juga mengalami kesulitan mendapatkan minyak tanah. "Jika ada maka harganya Rp 5.000 per liter," kata Endang, warga Desa SP 2 Nibung, saat berkunjung ke rumah keluarganya di Palembang, Rabu (9/11/2005). Sementara harga eceran tertinggi (HET) dari Pertamina di Kecamatan Nibung itu sebesar Rp 3.400 per liter.Akibat langkanya minyak tanah itu, aktifitas sehari-hari warga di sana menjadi terganggu, seperti memasak dan penerangan. Dampaknya, aktifitas bertani pun menjadi terganggu. Kelangkaan minyak tanah juga terjadi di beberapa kecamatan lainnya di Musi Rawas, seperti Kecamatan Rawas Ilir dan Kecamatan Ulu Rawas. Kalaupun ada harganya tetap tinggi karena dari Kota Lubuklinggau minyak tanah dibawa melalui sungai.
(ddn/)











































