Polri Izinkan Jurnalis Naik ke Atas Mobil Taktis Saat Liput Demo Ricuh

Rolando - detikNews
Sabtu, 26 Okt 2019 16:44 WIB
Danpas Pelopor Korps Brimob, Brigjen Verdianto Iskandar Bitti Caca (Rolando/detikcom)
Danpas Pelopor Korps Brimob, Brigjen Verdianto Iskandar Bitti Caca (Rolando/detikcom)
Depok - Polri menggelar simulasi bagi para jurnalis yang meliput demonstrasi berujung ricuh. Dalam simulasi tersebut, para jurnalis diberi izin naik ke atas kendaraan taktis (rantis) milik Korps Brimob ketika kericuhan pecah.

"Jadi teman-teman bisa di atas kendaraan taktis maupun di samping kanan-kiri teman-teman Brimob saat melakukan penindakan," kata Danpas Pelopor Korps Brimob, Brigjen Verdianto Iskandar Bitti Caca, usai kegiatan simulasi di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Sabtu (26/10/2019).



Izin naik ke rantis, seperti barracuda, ini bisa diberikan ketika situasi dalam keadaan 'merah' atau rusuh. Dia mengatakan dengan izin ini diharapkan tak ada lagi kejadian dugaan kekerasan terhadap jurnalis saat meliput demo yang berujung ricuh.

"Sehingga diharapkan tidak ada lagi komplain dari teman pers seperti kemarin ada mungkin kena gas airmata, ada mungkin HP hilang. Bisa disosialisasikan kepada masyarakat inilah tindakan yang dilakukan Brimob," ujar Verdianto.



Verdianto mengatakan personel Brimob selalu berupaya menghindari kekerasan saat penanganan demo. Dia mengatakan penanganan massa demo selalu dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada.

"Kita sama-sama tidak melakukan tindakan di luar protap maupun perangkat yang ada semua yang kita lakukan sesuai UU yang ada. Sehubungan dengan massa aksi kita hindari sedekat mungkin, sehingga kita menggunakan alat-alat yang sudah ada," ucapnya.

Simulasi ini digelar untuk mengingatkan pentingnya proteksi diri saat meliput aksi yang berujung ricuh. Saat simulasi, para jurnalis diberi fasilitator agar mengetahui titik aman untuk peliputan ketika terjadi kerusuhan.



Para wartawan juga diberi helm dan rompi bertulisan 'Pers' untuk membedakan perusuh dengan wartawan. Karo Multimedia Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Budi Setiawan mengatakan simulasi ini diberikan untuk menjaga keselamatan ketika terjadi kericuhan.

"Kadang-kadang media itu kan ingin dapat gambar yang akurat, padahal bisa zoom, zoom kurang akurat, dia mendekat sekali, padahal itu daerah berbahaya, bahkan anggota pun tidak berani ke titik itu. Kadang emosi (anggota Polri) sudah lain, jadi agar supaya saling menjaga, semua kalau kena (kekerasan) jadi masalah, menghindari itu, mungkin nanti ada cara-cara tertentu, bukan membatasi, tapi saling menjaga," kata Budi. (haf/haf)