SJW di Medsos

Cebong dan Kampret Tenggelam, Terbitlah SJW

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 26 Okt 2019 15:17 WIB
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)

Apa dan siapa SJW?

Ucapan 'SJW' digunakan sebagai cap negatif untuk merendahkan lawan debat di Twitter, Facebook, Instagram, atau media sosial lainnya. Memang begitulah warganet menggunakan istilah SJW, kasar namun nyata.

Bila merujuk pada istilah aslinya, 'social justice warrior', maka maknanya bakal terdengar amat sangat luhur, 'pejuang keadilan sosial'. Namun penggunaannya bukanlah untuk menyanjung, melainkan membenamkan. Istilah SJW mengalami perubahan makna ke arah yang buruk alias peyorasi.



"Nada peyoratif demikian lekat, lantaran di antara pandangan SJW, mengenai feminisme, hak-hak sipil, multikulturalisme, perlindungan lingkungan hingga politik identitas, seringkali dianggap sekedar mencari perhatian publik, dan bukan didorong oleh nilai-nilai yang benar-benar dipahami," tutur Firman, doktor yang berasal dari Universitas Indonesia (UI) ini.

SJW merujuk ke warganet yang idealis, berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan dan mengkritisi kondisi yang ada. Realitas yang dikritiknya bisa bertema politik, hukum, antikorupsi, menyelamatkan KPK, isu Papua, hak asasi manusia (HAM), oligarki, feminisme, pelecehan seksual, agraria, hingga isu lingkungan.



Warganet biasa melontarkan cap SJW ke lawan bicaranya di medsos bila warganet yang bersangkutan sudah sebal. Orang yang kena cap SJW biasanya dianggap sok tahu tentang suatu isu namun sangat ngeyel mempertahankan argumennya, berpijak pada nilai-nilai umum namun tidak menyentuh kenyataan yang faktual dan aktual. Akun atau orang yang dicap SJW juga sering dicurigai sebagai antek kepentingan asing, dapat dana dari asing, atau punya misi jahat.