Muhammadiyah Ungkap Kekecewaan Akibat Mendikbud Diisi Nadiem Makarim

Faiq Hidayat - detikNews
Sabtu, 26 Okt 2019 13:38 WIB
Nadiem Makarim (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Muhammadiyah bercerita tentang kekecewaan mereka akibat posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) diisi oleh Nadiem Makarim. Kekecewaan itu dibandingkan dengan kekecewaan Nahdlatul Ulama (NU) ketika Menteri Agama (Menag) tak dijabat kader NU.

"Ada kekecewaan pasti, sebagaimana NU merasa dicuri portofolionya di Kemenag, setelah reformasi itu kan hampir semuanya dari unsur nahdliyin kan, wajar teman-teman NU kecewa berat. Apalagi struktur NU ini die hard seperti PSI," kata Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Fahmi Salim saat diskusi di d'Consulate, Jl Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (26/10/2019).



Hal itu disampaikan Fahmi ketika ditanya soal ada-tidaknya kekecewaan dari Muhammadiyah akibat posisi Mendikbud kini dijabat Nadiem. Meski demikian, Fahmi menegaskan kekecewaan itu bukan dalam urusan pragmatis karena Muhammadiyah tidak ikut dalam politik praktis.

"Yang penting bagi kami, kalau ada kekecewaan, kami kecewa bukan dalam urusan pragmatis. Karena Muhammadiyah tidak terlibat dalam politik praktis. Tidak terlibat dalam dukung-mendukung pilpres kemarin, ingar-bingar, tarik-menarik, seperti misalnya kawan-kawan PA 212," ucapnya.

Fahmi sendiri tak tahu persis alasan Jokowi menunjuk Nadiem sebagai Mendikbud. Dia hanya menjelaskan pendidikan merupakan salah satu jalur perjuangan Muhammadiyah.

"Kalau urusan dapur, saya tidak tahu persis, tapi dalam urusan keagamaan, pendidikan, sosial, kesehatan, Muhammadiyah jalur perjuangannya lewat 4 ini. Pendidikan, sosial, panti asuhan, keagamaan tentu saja sebagai ormas. Pasti diajak bicara, tapi bagaimana formatnya saya tidak tahu. Yang jelas, Muhammadiyah tidak pernah meminta, tidak pernah memberikan target, patokan harus begini-begini, itu dikembalikan kepada wisdom setiap presiden di republik ini," ucapnya.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri sudah mengungkap alasan memilih Nadiem. Dia awalnya bicara soal Indonesia yang memiliki 300 ribu sekolah dengan 50 juta pelajar.

"Bayangkan mengelola sekolah, mengelola pelajar, manajemen guru sebanyak itu, dan dituntut oleh sebuah standar yang sama. Kita diberi peluang setelah ada yang namanya teknologi, yang namanya aplikasi sistem yang bisa membuat loncatan sehingga yang dulu dirasa tidak mungkin sekarang mungkin," kata Jokowi di Istana Kepresidenan, Kamis (24/10).

"Oleh sebab itu, dipilih Mas Nadiem Makarim," sambungnya.

PP Muhammadiyah Meluruskan

Pernyataan Fahmi Salim langsung ditepis Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Dadang Kahmad. Ia menegaskan Muhammadiyah tak kecewa dengan pilihan Presiden Jokowi.

"Nggak kecewa, bahkan kita menghargai keputusan presiden," kata Dadang, Sabtu (26/10/2019).

Dia juga membantah pernyataan Fahmi Salim, yang mengaku sebagai Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, soal kekecewaan Muhammadiyah karena posisi Mendikbud diisi Nadiem. Ia menegaskan pernyataan Fahmi bukan representasi dari Muhammadiyah.

Dadang menyebut Justru Muhammadiyah mengapresiasi Jokowi yang menunjuk Prof Muhadjir Effendy sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Dia berharap menteri dan wakil menteri Kabinet Indonesia Maju bisa bekerja dengan baik dan menyejahterakan rakyat Indonesia.

"Nggak, ini yang tidak representasi dari Muhammadiyah. Muhammadiyah, kita menghargai keputusan presiden untuk mengangkat menteri-menterinya berdasarkan pilihan dan hak prerogatif beliau, bahkan kami berterima kasih Prof Muhadjir telah diangkat Menko PMK," jelas Dadang.

"Oleh karena itu, kami berharap semoga kabinet ini, kabinet yang kompak dan baik bisa memaksimalkan, memakmurkan, dan memajukan bangsa Indonesia ke depan," sambungnya.
(fdn/fdn)