Salik Hasil Rekrutan Jabir
Kamis, 10 Nov 2005 17:50 WIB
Solo - Salik Firdaus diyakini polisi sebagai salah satu pelaku bom bunuh diri pada peristiwa bom Bali II. Sumber di kepolisian menyebutkan keterlibatan Salik dalam aksi teror adalah atas pengaruh dari Jabir -- sepupu Fathurrochman Al Ghozy -- yang juga merupakan kakak angkatan Salik di Pesantren Darusy Syahadah, Boyolali.Sumber di kepolisian Surakarta mengatakan, dari data intelijen diketahui Salik merupakan generasi baru dalam barisan kelompok pelaku teror di Indonesia. Keterlibatannya itu akibat pengaruh atau ajakan dari seniornya yaitu Jabir alias Gempur Budi Angkoro, warga Madiun yang hingga saat ini masih buron.Jabir adalah saudara sepupu Fathurrochman Al Ghozy yang telah mati ditembak polisi Filipina setelah berhasil lolos dari penjara di negara itu. Nama Jabir sendiri mencuat ke pemberitaan karena diduga terlibat dalam peledakan bom di Kedubes Australia. "Informasi yang kami kumpulkan menunjukkan bahwa perekrutan Salik adalah melalui Jabir," ujar sumber polisi tersebut.Jabir pernah nyantri dan bahkan sempat mengajar di Pesantren Darusy Syahadah, Boyolali. Pihak pesantren menyebutkan dia meninggalkan pesantren tanpa keterangan beberapa bulan sebelum peledakan Kedubes Australia. "Dia masih buron. Dia bersama Noordin M Top berhasil lolos dari penyergapan polisi ketika berada di Wonogiri pertengahan Oktober lalu," lanjutnya.Seperti diberitakan, kepolisian menyakini salah satu pelaku bom bunuh diri pada bom Bali II adalah Salik Firdaus. Dari informasi diketahui bahwa beberapa waktu sebelum terjadi peledakan di Bali, lelaki 23 tahun beranak satu anak berumur satu tahun yang biasa berdagang pakaian di Pasar Cikijing, Majalengka, tersebut pamit kepada keluarganya akan berdagang ke Boyolali.Keluarganya tidak menaruh curiga apa pun karena dia pernah nyantri di Pesantren Darusy Syahadah, Boyolali. Pihak Darusy Syahadah mengatakan Salik pernah belajar di Kuliyyatul Mu'alimin Al-Islamiyah (KMI) pesantren itu pada tahun 1999 hingga 2002. Tidak sempat lulus dia meninggalkan pesantren."Dia pamit akan pulang ke Jawa Barat, saat itu alasannya karena urusan keluarga. Dia pamit dengan baik-baik kepada saya, para pengajar lain di pesantren maupun kepada teman-teman santrinya. Tidak ada persoalan apa-apa," papar Pimpinan Darusy Syahadah, Mustaqiem, kepada detikcom, (1/11) lalu.Selama nyantri, kenang Mustaqiem, Salik dinilainya sebagai santri yang baik dan tidak pernah membuat catatan buruk di pesantren. Namun Mustaqiem menyangkal Salik pernah datang lagi ke pesantrennya setelah itu.Setelah pamit pada tahun 2002 itu, menurut pengakuan Mustaqiem, Salik belum sekalipun datang lagi ke pesantren. Namun dari cerita beberapa temannya, Mustaqiem mengetahui bekas santrinya itu telah berkeluarga dan menetap di kampung halamannya di Cidulang, Cikijing, Majalengka.Gambar:Salik Firdaus
(nrl/)











































